Monday, 14 October 2019

Wanita Tangguh Taklukan Dunia Maritim

Jumat, 20 September 2019 — 9:39 WIB
Para wanita yang punya andil di dunia kemaritiman. (ist)

Para wanita yang punya andil di dunia kemaritiman. (ist)

JAKARTA – Banyak wanita-wanita tangguh di Indonesia kini bermunculan di dunia maritim. Peran wanita di bidang kelautan, kepelabuhan dan industri maritim lainnya tidak boleh dikesampingkan.

​Hal tersebut ditegaskan oleh lima wanita tangguh yang kini menjadi tokoh nasional dalam dunia maritim di Indonesia saat perayaan hari jadi ke-4 Women in Maritime Indonesia (Wima Ina), Kamis malam (19/9/2019).

Ketua Umum Wima Ina, Nirmala Chandra Motik, mengungkapkan wanita dalam memajukan bisnis maritim dan keselamatan pelayaran, jangan dianggap remeh. Tidak sedikit wanita Indonesia memiliki peran besar di dunia maritim.

Menurutnya, sudah banyak wanita karier berkiprah di dunia maritim seperti menjadi nakoda kapal patrol maupun awak kapal, pengusaha dan pemimpin asosiasi pelayaran nasional, praktisi hukum maritim, dan pekerjaan lainnya yang menantang dan berbahaya seperti yang dikerjakan kaum pria.

“Seperti saya misalnya. Menggeluti pekerjaan terkait hukum maritim ternyata sangat menarik bahkan seorang priapun belum banyak menggeluti hukum maritim. Selain penuh dengan hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya, juga tantangannya luar biasa tapi bisa saya lewati,” cerita Chandra Motik.

Selain Chandra Motik, hadir juga Direktur Utama Terminal Teluk Lamong yang juga seorang wanita yakni Dothy. Wanita yang memimpin sebuah terminal pelabuhan yang canggih, semi-automatic, ramah lingkungan dan bertaraf Internasional di Surabaya.

Mendengar kata “terminal petikemas “, kebanyakan dari kita langsung mengasosiasikan sebuah pekerjaan yang dilakukan lelaki banget. Karena pekerjaan ini adalah aktivitas bongkar muat di di pelabuhan yang berhadapan dengan kerja keras.

“Dengan bantuan teknologi apa yang dilakukan pria bisa dilakukan wanita. Bahkan, wanita di ruang kontrol kami bisa mengendalikan 4-5 alat berat petikemas sekaligus,” ucapnya.

​Tidak kalah tangguhnya, sosok wanita lainnya yakni Kapten Kartini mantan nakhoda wanita pertama di Indonesia yang kini menjadi wakil direktur di perguruan tinggi pelayaran. Dia  pernah membawa kapal besar dari Jerman ke Indonesia di era Presiden Soeharto.

Tidak jauh dengan para seniornya, tampil juganakhoda kapal KPLP (kesatuan penjagaan laut dan pantai) Ni Putu Cahyani Negara. Wanita muda ini mengaku pernah tampil saat melakukan penyelamatan perompakan kapal di tengah laut yang dilakukan oleh puluhan bajak laut.

Selain dapat mematahkan para perompak kapal, Ni Putu juga pernah membawa kapal yang mengangkut Presiden Jokowi dan terakhir terjun mencari jenazah para korban pesawat Lion Air yang jatuh beberapa waktu lalu.

“Saya ikut nyerokin potongan-potongan tubuh manusia yang kita kumpulkan satu persatu di tengah laut. Alhamdulillah suami dan anak saya mendukung penuh pekerjaan saya meskipun mereka sering saya tinggal tugas hingga berhari-hari,” paparnya.

Ketua INSA atau pelayaran Nasional Indonesia, Carmelita Hartato juga mengungkapkan dirinya dalam keseharian memimpin para pengusaha pelayaran yang mayoritas di dominasi oleh kaum pria. Bahkan wanita cantik ini juga pernah memimpin di tingkat Asean.

Sementara itu , Kasubdit Keselamatan Direktorat Perkapalan dan Kepelautan Shidrotul Muntaha mewakili Sekretaris Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Arif Toha menyampaikan apresiasi atas peran Wima Ina dalam memajukan maritim Indonesia.

“Pak Dirjen Hubla mengakomodasi peran Wima Ina dan mengakui bahwa laut itu kinibukan hanya milik laki-laki namun juga wanita,” ujarnya.

​Bahkan katanya, inspektor keselamatan pelayaran yang terdiri dari enam orang, empat di antaranya adalah wanita. Begitu juga dengan nakhoda kapal patrol Kemenhub, saat ini tercatat sebanyak 17 orang adalah para wanita. (dwi/mb)