Tuesday, 15 October 2019

Janji, Ikrar dan Sumpah

Kamis, 3 Oktober 2019 — 13:15 WIB

Dalam kehidupan sehari – hari kita tak lepas dari janji, ikrar dan sumpah. Ketiga kata tersebut mirip makna, tetapi beda tingkatan dan kadarnya.

Janji bisa diucapkan setiap saat kepada orangtua, istri, anak, keponakan dan teman. Seperti janji bertemu, memberikan sesuatu, membantu hingga menyangkut perilaku. Tentu saja perilaku dari kurang baik menjadi lebih baik.

Ikrar tingkatannya lebih tinggi karena ada peneguhan hati bagi yang mengucapkan janji. Sering dibarengi dengan membacakan janjinya, ikrar kepada seseorang, pemimpinnya, kelompok atau komunitasnya. Tidak heran, jika dalam ikrar terdapat kehadiran saksi.

Lain lagi dengan sumpah, selain janji tertulis, dibacakan di depan khalayak, ada kehadiran saksi ahli yang memandu pelaksanaan sumpah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mengawali ucapan “demi Allah” bagi seorang muslim.

Karena beda tingkatan, boleh jadi akan berdampak kepada beda penafsiran, beda dalam menyikapi janji, ikrar dan sumpah.
Lahirnya istilah janji gombal,  janji palsu, ikrar palsu dan sumpah palsu, tak lain karena adanya pengingkaran atas apa yang telah diucapkan.

Memang janji hanya memiliki kekuatan moral, tetapi bukan lantas boleh dianggap enteng, seenteng ketika mengucapkannya, tetapi berat ketika harus memenuhinya.

Makna janji itu sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah  perkataan atau ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu. Pengakuan yang mengikat diri sendiri terhadap ketentuan yang harus ditepati atau dipenuhi. Artinya janji yang diucapan harus ditepati.

Agama apa pun mengajarkan kepada  pemeluknya untuk tidak ingkar janji. Para ulama mengatakan janji adalah utang yang wajib dibayar, harus dipenuhi – dilunasi.

Islam mengajarkan bahwa kepada siapa pun janji itu diberikan, selama bukan janji bermaksiat maka harus ditepati. Bahkan siapa yang tidak menepati janji dikhawatirkan akan masuk golongan orang munafik.

Sayangnya dan tak dapat dipungkiri tidak semua janji dapat ditepati.

Pada masa sekarang, janji sering digunakan sebagai “bumbu pergaulan.” Kalangan pengusaha yang bertransaksi, politisi yang sedang berkampanye, bahkan orang tua ketika membujuk anaknya, sering melontarkan janji-janji manis. Ada yang konsisten dengan janjinya dan berupaya memenuhi, tetapi tidak sedikit yang ingkar dan menganggap hanya sebagai senda gurau atau  “bumbu berkomunikasi” belaka. Bahkan, tidak sedikit yang menjadikannya sebagai alat mempererat pergaulan dan pertemanan saja. Tujuannya tidak lain dari meraih simpati.

Boleh jadi ini strategi, di awal berhasil mendapat empati, tetapi akhirnya membuat sakit hati bilamana pada akhirnya tidak ditepati.
Itulah sebabnya, memenuhi janji harus menjadi target dalam kehidupan. Apa pun profesi seseorang. Ini bisa, atau harus, dimulai dari edukasi di lingkup terkecil seperti keluarga.

Maka orangtua wajib memberi dan sekaligus menjadi contoh teladan dengan selalu memenuhi janji kepada anaknya atas segala apa yang telah atau pernah diucapkan. Walau  sepahit apa pun risikonya. Jangan sekali-kali merasakan pemenuhan janji dapat berakibat buruk pada jadwal atau pola pergaulan dan pendidikan.

Pokoknya janji bagaikan utang. Harus dibayar atau dipenuhi. Karena itu, kata orangtua, jangan suka “mengobral janji.” Sebut saja, misalnya janji kepada anak akan membelikan gadget canggih, sementara dari segi usia belum menjadi kebutuhan. Nah! Kan bikin repot diri sendiri.

Begitu juga bagi para pejabat, kepala daerah, politisi yang pernah mengobral, bahkan yang hanya “mengobrol” aneka janji, wajib memenuhi janjinya kepada konstituen dan pemberi suara. Patut diingat, mereka menjadi kepala daerah, menjadi anggota legislatif karena dipilih rakyat. Sementara kita tahu, rakyat memilih karena diberi janji – janji manis.

Maknanya, mereka terpilih menjadi pejabat karena bantuan rakyat. Karena itu menjadi ironis, jika setelah menjabat melupakan kepentingan rakyat. Jika itu terjadi, maka menjadi realitas yang tak dapat dipungkiri bahwa janji kampanye hanya pemanis bibir belaka. Bagaikan umpan di kail, setelah dapat ikan, dilempar begitu saja.

Padahal menepati janji tidak hanya akan meningkatkan kadar kepercayaan, tapi juga dapat melanggengkan kekuasaan. Politisi yang tidak menepati janji jangan harap dapat terpilih lagi pada periode mendatang.

Jangan menganggap dan menjadikan janji hanya penuntut tanggungjawab moral, tetapi memenuhi janji adalah sebuah kewajiban. Siapa pun hendaknya memiliki kesadaran diri bahwa tidak memenuhi janji adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri.

Sesungguhnya yang tahu persis mengapa seseorang tidak bisa menepati janji adalah diri sendiri. Bukan orang lain.
Ada pesan moral yang mengatakan “lebih baik berusaha untuk tidak berjanji daripada berusaha mencari-cari alasan agar janji bisa tidak dipenuhi.”

Pesan lain, “Jauh lebih baik tidak menjanjikan apapun, tapi mencoba sekuat daya untuk memberikan segalanya yang terbaik.
Ingatlah selalu “janji” saja wajib dipenuhi, apalagi  “ikrar” dan “pejabat” yang sudah bersumpah dengan menyebut nama Allah. Bukankah, kewajiban untuk menepatinya lebih tinggi ketimbang mereka yang “sekedar” mengucapkan janji. (*).