Sunday, 17 November 2019

Mengubah Diri Sendiri

Senin, 7 Oktober 2019 — 6:12 WIB

Oleh Harmoko

Orang boleh saja bermimpi atau bercita- cita mengubah dunia, mengubah negerinya. Tetapi mimpi itu tetaplah menjadi mimpi belaka, selama tidak ada upaya nyata untuk mengubahnya.

Bung Karno sendiri kerap memotivasi pemuda Indonesia agar memiliki cita- cita yang tinggi lewat kata mutiaranya “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!” Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Kita memaknai ada tiga poin penting dari motivasi tersebut.

Pertama, ajakan agar pemuda Indonesia memiliki cita – cita yang luar biasa. Kalau bermimpi, mimpilah yang belum dimimpikan orang lain.

Kedua, ajakan untuk selalu mencoba mewujudkan cita – cita melalui upaya nyata. Kalau kemudian gagal, bukanlah gagal pada sesuatu yang biasa – biasa saja.

Ketiga, upaya nyata dilaksanakan dengan melakukan perubahan untuk menggapai tujuan seperti yang dicita – citakan.

Perubahan paling mendasar harus dimulai dari diri sendiri. Jangan harap dapat mengubah orang lain, apalagi dunia, kalau diri sendiri tidak mau berubah. Tidak memulai perubahan.

Kadang banyak orang teriak perubahan. Ingin mengubah orang – orang di sekitarnya, tapi dirinya sendiri tidak mampu berubah karena terbelenggu oleh rutinitas.

Tidak sedikit para tokoh mengusulkan adanya perubahan seperti membangun negeri yang bebas dari korupsi, tetapi kalau tidak dibarengi dengan memberi contoh yang baik dengan tidak memberi atau menerima suap. Sama saja “mimpi.”

Bahkan, yang ironis, ada yang sering berteriak anti – korupsi, malah menjadi koruptor.
Tidak sedikit yang meminta orang lain untuk berubah, ingin lingkungannya berubah, tetapi dirinya sendiri tidak mau berubah.

Ada satu kisah inspiratif tentang seseorang yang sejak usia muda tiap hari berpikir dan berjuang ingin mengubah dunia. Tapi tidak berhasil karena dunia tidak berubah sendiri seperti yang diharapkan. Maka perjuangan dipersempit menjadi mengubah negeri, atau malah kampung, tapi itu pun tetap tidak berhasil.

Di usia senja, dengan sisa tenaga dan kemampuan terbatas, berusaha mengubah keluarganya, orang – orang dekatnya, namun tetap tidak berhasil karena keluarga, sedikit pun tidak berubah juga.

Sebelum meninggal muncul kesadaran diri bahwa untuk melakukan perubahan harus dimulai dari diri sendiri. “Ibda’ bi nafsik!” ( Mulai dari dirimu sendiri! ) kata orang Arab.

Maka setelah dirinya sendiri berubah! Memberi contoh perubahan, barulah meminta orang lain berubah.

Jika mengubah diri dan keluarga saja belum mampu, janganlah bermimpi mampu untuk mengubah negerimu apalagi dunia. Itulah tulisan inspirasi yang terukir di atas batu nisan makam Westminster Abbey. Makam para raja dan ratu Inggris.

Jadikanlah kisah itu sebagai inspirasi kita melakukan perubahan menuju perbaikan dan kemajuan harus dimulai dari diri sendiri.
Jika kita ingin berubah menjadi lebih baik, maka harus bersedia mengubah diri sendiri dahulu.

Tapi mengapa kita harus berubah? Karena mustahil ada kemajuan tanpa adanya perubahan.

Di sisi lain, dunia terus berubah. Pasar dunia berubah, selera berubah, begitu juga perusahaan-perusahaan dan individu-individu yang memilih bersaing di pasar harus berubah. Tanpa penyesuaian diri untuk berubah, niscaya akan tergilas oleh kemajuan zaman. Apalagi di era digital seperti sekarang yang serba instan dan cepat. Perubahan teknologi informasi dan komunikasi bukan lagi hitungan tahun, bulan dan hari. Tapi sudah hitungan menit dan detik.

Itulah sebabnya orang -orang yang sukses selalu beradaptasi dengan perubahan. Sebaliknya, orang yang tidak mau berubah berarti mengekang diri meningkatkan kualitas hidup.

Banyak literatur menyebutkan perubahan yang paling bermakna dalam hidup adalah perubahan sikap. Dengan sikap yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar. Tindakan yang takkan menabrak norma hukum dan sosial, norma agama serta etika dan budaya.

Mengubah diri menjadi lebih baik memang mudah diucapkan, tetapi sulit dilakulan.

Beberapa cara dapat dicoba untuk memulai perubahan sebagaimana telaah para ahli, sbb;

Pertama, mencoba menjauhkan perasaan takut gagal. Taklukkan perasaan takut dengan kekuatan yang kita miliki.

Kedua, percaya kepada diri sendiri bahwa kita memiliki kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik. Percaya diri bahwa esok akan lebih baik.

Ketiga, menentukan arah dan tujuan perubahan dengan jelas. Perubahan didasari atas kebutuhan pribadi, bukan karena paksaan, bukan pula karena gengsi.

Yang pasti perubahan harus diawali dengan kesadaran diri.

Dengan perubahan, kita akan mampu menyesuaikan diri dengan situasi apa pun dan bagaimana pun. Sehingga mudah berbaur dengan orang banyak sekalipun dalam tekanan. Kenyamanan dan ketenangan akan didapatkan di lingkungan mana pun kita berada.

Mari kita ubah lingkungan menjadi lebih baik lagi dengan meneladani untuk memulai melakukan perubahan dari diri kita sendiri.

Mari kita ubah diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengubah diri orang lain. Mulai dari hal yang kecil hingga yang terbesar, bahkan hingga yang luar biasa.

Ada pesan moral menyebutkan

“Manusia paling tidak berguna adalah orang-orang yang tidak pernah berubah menjadi lebih baik selama bertahun-tahun ” seperti dikatakanJames Barrie, penulis, akademisi dan dramawan Skotlandia. (*)

Terbaru

Kebakaran di ruko Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat. (dwi)
Minggu, 17/11/2019 — 17:33 WIB
Ruko di Jalan Gajah Mada Kebakaran
Ilustrasi
Minggu, 17/11/2019 — 16:55 WIB
Tahun Ini, Ada 1.491 Janda-Duda di Purwakarta
Komisi III Fraksi NasDem, Taufik Basari (rizal)
Minggu, 17/11/2019 — 16:51 WIB
DPR Dukung Wacana Menko Polhukam Hidupkan KKR