Tuesday, 15 October 2019

Chandra Kirana Motik: Wanita Jangan Takut Jadi Pelaut

Rabu, 9 Oktober 2019 — 8:07 WIB
Chandra Kirana Motik

KECINTAAN di dunia maritim sudah tidak diragukan lagi. Bahkan hampir separuh hidupnya tersita untuk menggeluti hal-hal yang berbau pelabuhan dan kelautan.

Ayunda Dr Nirmala Chandra Kirana Motik, SH, MH, sosok perempuan Indonesia satu ini dikenal dengan ciri khasnya  sebagai wanita berambut panjang terurai hampir sebetis serta selalu mengenakan aksesoris bandu.

Dikenal sebagai tokoh maritim berlatar belakang praktisi sebagai ahli hukum laut, wanita lembut dan ayu ini satu-satunya perempuan senior di kemaritiman dikenal juga sebagai penggerak wanita agar setara dengan pria.

Berbagai organisasi telah didirikannya dan terakhir sebagai Ketua Umum Women In Maritime Indonesia (WIMA-INA) yang mengajak para wanita muda untuk tidak takut menjadi pelaut.

Sebab kesetaraan di bumi pertiwi ini sudah sangat baik dan banyak sudah wanita yang menjadi pemimpin di kemaritiman.

Ia mengungkap Indonesia banyak memiliki perempuan tangguh di bidang maritim. Bahkan jauh sebelum era kemerdekaan. Contoh Laksmana Malahayati dari Aceh, Ratu Kuning dari Palembang Sumatera Selatan.

Bahkan sekarang pun hadir nakhoda kapal penumpang dan kapal barang perempuan pertama yang dimiliki Indonesia, Capt Entin Kartini yang mampu membawa kapal Pelni dari Jerman ke Indonesia.

Selain itu wanita lain yang menjadi pemimpin yakni Ketua Umum INSA/pelayaran nasional Charmelita Hartoto, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong Surabaya Dothy, dan Nakhoda KN Alugara P.114 Capt. Ni Putu Suryani Negara serta Capt Entin Kartini.

Taklukkan Dunia
“Semua wanita-wanita tersebut telah menaklukan dunia. Mereka kerap tampil membawa bendera Indonesia di luar negeri,” tutur Chandra Motik.

Para perempuan Indonesia memiliki kontribusi besar dan mampu untuk turut serta membesarkan dunia maritim Indonesia.

Aktifitas Ayunda Chandra sendiri seringkali harus berada di lingkungan para laki-laki yang notabene tangkas, bergerak cepat sehingga tak heran bila tabiat dan pembawaannya setegas pria namun selembut wanit.

Ayunda Chandra Motik, kelahiran Palembang, 18 Pebruari 1954 ini   adalah anak Menteng, lahir dan besar di kalangan ‘penggede’ dan terpelajar sejak kecil tinggal di daerah Menteng adalah perempuan yang hampir sangat sempurna. Kendati sukses dalam karir dan rumahtangga, tidak pernah sombong dan memilih-milih teman ataupun orang yang meminta bantuan.

Jaga Tiang Agama
Sebagai   isteri  yang setia dan hamba Allah dia sangat menjaga tiang agama dan sangat mudah mengulurkan bantuan pada siapapun yang membutuhkannya. Ia sangat ramah pada siapapun tanpa merasa diri eksklusif. Inilah cermin kematangan spiritual seorang hamba.

Mesjid Sunda Kelapa adalah Mesjid yang didirikan oleh ayahandanya, BR Motik alias Basyaruddin Rachman Motik.

Kecintaan terhadap tanah air itu kiranya dimanifestasikan  Ayunda  dalam berbagai kiprahnya. Sebagai cucu bernenek moyang pelaut, ia melabuhkan kecintaan profesinya pada bidang bahari dan menjadi tokoh maritime nasional. Sebagai perempuan, ia mencitrakan diri dalam berbagai penampilannya yang mengusung tradisi  dan khasanah nusantara.  Bangga dalam aksesoris kultural yang etnis dan eksotis. (dwi/bi)