Tuesday, 15 October 2019

Mental yang Tangguh

Kamis, 10 Oktober 2019 — 6:52 WIB

Oleh Harmoko

SEHAT itu kualitas hidup. Mengapa? Karena kesehatan tidak saja menyangkut fisik, juga mental dan sosial. Ketiga unsur tadi merupakan kesatuan yang utuh (tidak bisa dipisahkan) dalam diri manusia. Seseorang tidak akan bisa melakukan segala sesuatu dengan baik tanpa jiwa yang sehat, meskipun fisiknya baik-baik saja.
Begitu juga seseorang tidak akan bisa maksimal melakukan aktivitas sosialnya, jika tidak sehat kondisi sosialnya (sosio -kultural).

Ini sejalan dengan definisi kesehatan sebagaimana dimaksud Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 bahwa “Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis”.
Maknanya kesehatan tidak dititik -beratkan pada “penyakit” tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari “kesejahteraan” dan “produktivitas sosial ekonomi”.

Kita sering memandang kesehatan dari aspek fisik (badan) saja, padahal kesehatan mental (rohani), tidak kalah penting. Setidaknya kedua unsur utama tadi (fisik dan mental) – sering disebut “waras” perlu menjadi prioritas.

Menghadapi beragam tantangan akibat kemajuan teknologi, utamanya informasi dan komunikasi yang berujung kepada kian maraknya godaan, kalau tidak disebut “jebakan sosial”, maka ketangguhan mental sangat diperlukan, utamanya generasi milenial sebagai penikmat era digital.

Begitu seriusnya masalah kesehatan jiwa (mental) hingga Badan Kesehatan PBB, World Health Organization ( WHO) menetapkan “Hari Kesehatan Jiwa Dunia – World Mental Health Day” pada setiap tanggal 10 Oktober.

Mengapa? Karena sekitar 20 persen anak-anak dan remaja di dunia mengalami gangguan dan permasalahan mental. Dan, lebih dari 800.000 orang setiap tahunnya mati karena bunuh diri. Bunuh diri sendiri menjadi penyebab terbesar ke-dua dari kematian yang terjadi pada usia 15-29 tahun. Itulah hasil survey yang pernah dirilis WHO.

Gangguan jiwa (mental) di sini, jangan lantas ditafsirkan “gila”. Depresi, trauma, perasaan was – was, rasa tertekan karena berbagai persolan hidup dan kehidupan, keputusasaan menghadap beban berat persoalan sosial ekonomi, merupakan bagian dari gangguan jiwa.

Seseorang dapat dikatakan “sehat jiwa” jika memiliki ciri – ciri,  sebagaima disampaikan para ahli, di antaranya sbb:
– Mampu menghadapi situasi, mampu mengatasi kekecewaan dalam hidupnya.
–  Merasa senang terhadap dirinya, puas dengan pekerjaannya, puas pada kehidupannya sehari-hari
–  Mempunyai harga diri yang wajar, menilai dirinya secara realistis, tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan.
– Mampu memenuhi tuntutan hidup, menetapkan tujuan hidup yang realistis, mampu merancang masa depan.
–  Mampu mengambil keputusan, menerima tanggungjawab
–  Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain, mampu mencintai orang lain, merasa bagian dari suatu kelompok
– Dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda, dapat menerima ide dan pengalaman baru,
–  Tidak “mengakali” orang lain dan juga tidak membiarkan orang lain “mengakali” dirinya.

Dalam artian yang lebih luas lagi, sehat jiwa adalah tahu yang benar adalah benar dan berupaya menegakkannya. Yang salah adalah salah dan berusaha untuk menjauhinya.

Bukan, sudah tahu suap dilarang, tapi dilakukannya. Sudah paham betul korupsi kejahatan yang luar biasa, tapi dilakukannya.
Tidak dipungkiri menuju sehat jiwa, dalam artian teguh dan kuat mental tidaklah mudah. Selain perlu edukasi sejak dini, juga melatih diri dalam kehidupan sehari – hari. Mulai dari lingkup terkecil keluarga, kemudian beranjak ke lingkungan sekitarnya.
Menghindari kebiasaan buruk menjadi salah satu kunci menguatkan ketahanan mental.

Segala kebiasaan buruk turut memberi pengaruh kepada kerapuhan mental karena hal – hal buruk hanya akan memberi energi negatif bagi jiwa seseorang.
Ada baiknya gunakan semua energi untuk membangun pikiran yang positif.
Berpikir positif berarti tidak risau oleh keadaan sekitar. Tidak tergoda untuk mengikuti jejak orang lain yang suka pamer kemegahan dan kemewahan.
Menutup mata,  telinga, pikiran dan hati, jika godaan datang.

Pribadi yang bermental tangguh tentu tidak melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Tetapi akan fokus pada hal – hal positif untuk kemajuan dirinya, keluarganya dengan kemampuan yang dimilikinya.
Mari sehatkan jiwa kita dengan membangun mental yang tangguh. Mental yang kuat menghadapi godaan, handal menerima ujian serta sukar dikalahkan oleh serbuan penyakit jiwa yang berwujud “depresi, trauma hati, emosi, dan rendah diri”.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri. (*).