Tuesday, 15 October 2019

Tak Terdampak Kerusuhan, Sektor Pariwisata di Wamena Aman Dikunjungi

Kamis, 10 Oktober 2019 — 14:57 WIB
ilustrasi

ilustrasi

JAKARTA – Kabupaten Jayawijaya terkenal dengan Lembah Baliem dan rumah-rumah suku Dani tidak terpengaruh kerusuhan beberapa waktu lalu di Wamena, Jayawijaya, Papua. Objek-objek budaya dan wisata alam tersebut tetap aman dikunjungi wisatawan lokal serta mancanegara.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan sejumlah destinasi wisata tersebut dalam kondisi aman, tidak terkena dampak kerusuhan. Letak obyek-obyek wisata tersebut berada di pinggir Kota Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya.

Suku Dani memiliki objek wisata budaya seperti mumi mengusung tradisi selalu menjaga peninggalan leluhur. Rumah-rumah dan kehidupan tradisional suku Dani di sekitar Wamena dan Lembah Baliem masih utuh dan bisa dinikmati wisatawan.

“Termasuk situs Gua Kontilola dengan gambar Alien di dalamnya juga aman dari kerusuhan. Mama-mama suku Dani yang kreatif juga masih bersemangat merajut noken, baik untuk dipergunakan sendiri atau untuk dijual pada wisatawan,” kata Hari dalam keterangannya, Kamis (10/10/2019).

Tak hanya itu, kebun-kebun di pinggiran Wamena juga masih menghasilkan ubi jalar dan keladi, sebagai kuliner tradisional Lembah Baliem.

“Lembah Baliem merupakan daerah eksotis dengan keindahan alam dan budayanya. Dengan modal objek wisata budaya, alam dan produk kreatif khas Wamena maka pariwisata akan membangkitkan perekonomian Wamena yang terpuruk akibat kerusuhan,” ucap dia.

Menurut Edbert Gani, peneliti dari CSIS, sektor pariwisata merupakan salah satu indikator untuk menilai kemajuan pembangunan, tingkat ekonomi, dan kondisi masyarakat sebuah negara atau daerah. Untuk itu, ia mendukung sektor pariwisata terus menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah dalam membangun Papua.

“Pariwisata di Papua dalam konsep membangun provinsi itu harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang intinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil, secara etika dan sosial masyarakat,” ungkap Edbert. (yendhi/ys)