Tuesday, 15 October 2019

Wiranto Ditusuk, Bupati Pandeglang: Kami Sedikit Kecolongan

Kamis, 10 Oktober 2019 — 22:01 WIB
Bupati Pandeglang, Irna Narulita. (yendhi)

Bupati Pandeglang, Irna Narulita. (yendhi)

JAKARTA – Bupati Pandeglang, Irna Narulita, mengaku kecolongan atas insiden penusukan terhadap Menkopolhukam, Wiranto. Meski dia akui pelaku penyerangan, RA alias Abu Rara bukanlah warga aseli Pandeglang.

“Keamanan rasanya sudah cukup untuk memberikan pengawalan untuk beliau, tetapi mohon maaf ini kami sedikit kecolongan dan mudah-mudahan kejadian ini tidak terulang kembali,” kata Irna di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2019).

Untuk itu, besok Irna akan mengumpulkan semua camat dan kepala desa untuk memberikan pemahaman supaya lebih teliti ketika ada warga pendatang baru yang masuk ke wilayahnya. Sosialisasi dan edukasi akan terus dilakukan pemerintah Pandeglang agar terhindar dari paham radikalisme.

“Tentunya kami akan berusaha dan melakukan edukasi dan silaturahmi dengan ibu-ibu muda, majelis taklim, pesantren, anak-anak sekolah di setiap apel Senin. Dan kami akan terus melakukan yang terbaik agar tidak terulang kembali,” ucap Irna.

Dia menyampaikan bahwa acara yang dihadiri oleh Wiranto bukanlah acara pemerintah Kabupaten Pandeglang karena Irna juga hadir sebagai tamu undangan. Wiranto diundang sebagai ketua majelis atau pakar, penasihat sekaligus pelopor berdirinya provinsi Banten.

“Kalau saya yang mengundang kita akan koordinasi dan rapat berkali-kali dan untuk menerima tamu undangan khususnya para menteri. Jadi kami tidak terlibat langsung,” tegas dia.

Irna mengaku perbuatan pelaku penusukan sangat merugikan pemerintahannya yang masih banyak memerlukan bantuan untuk program percepatan pembangunan. Pasalnya, dampak insiden tersebut bisa menurunkan minat para investor.

“Kami akan terus berkolaborasi dengan forkopimda, TNI, Polri untuk bisa penanganannya lebih baik lagi ke depan, bersih semua, anak-anak kami juga kami kawal dengan sosialisasi, wawasan kebangsaan terkait dengan Pancasila, UUd, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, agar mereka paham, merawat, menjaga NKRI ini adalah harga mati,” tandas Irna. (yendhi/yp)