Tuesday, 15 October 2019

Kombes Budhi, Kapolres Jakut Sewaktu Bocah Benci Lihat Polisi

Jumat, 11 Oktober 2019 — 8:08 WIB
Kombes Budhi Herdi

Kombes Budhi Herdi

MENJADI  polisi  bukan lah cita-citanya. Polantas yang sering dilihatnya ketika SMP minta uang kepada pelanggar lalu lintas, membuatnya membenci Korps Bhayangkara. Tapi siapa yang menduga, Budhi Herdi Susianto malah jadi anggota Polri dan kariernya  cemerlang.

Bahkan kini dengan pangkat Kombes dia menjabat Kapolres Jakarta Utara. “Jujur saat kecil saya benci polisi.  Karena sering melihat kelakuan polisi meminta uang bagi pelanggar lalu lintas. Tak kepikiran mau menjadi polisi,” cerita Budhi.

Namun perasaan tak suka polisi, perlahan-lahan sirna saat duduk di  SMA. Lulus SMA  1993, putra ke sembilan dari 11 bersaudara  ini  mendapat  beasiswa  berkesempatan mendaftar pendidikan di empat matra.

“Pilihannya darat, laut, udara, dan polisi.  Hasil psikologis, kejiwaan dan tes lainnya, saya ternyata lebih cocok menjadi polisi. Kami diberi waktu sehari menerima atau tidak beasiswa itu,” kenang  Budhi.

NASIHAT IBU

Di tengah kebimbangannya, dia berkonsultasi dengan orangtua, khususnya sang ibu.  Sebab  ibunya yang paling tahu dia tak suka dengan polisi.  Kalimat atau nasihat sang ibu yang kemudian membuat pria kelahian Pemalang, Jawa Tengah,  45 tahun silam ini bergabung di Polri.

“Kami benci polisi karena ulah segelintir  oknum. Nanti kalau kamu jadi polisi jangan seperti itu. Kalau kamu seperti itu berarti kamu sama saja dibenci dirimu sendiri. Kamu harus  mengubah perilaku oknum seperti itu, bila jadi polisi,” ucap Kombes Budhi mengenang  nasihat ibunya.

Kata-kata ibunya itulah yang sampai sekarang dikenang bapak satu anak ini. “Insha Allah saya terapkan selama berakrir di Polri,” janjinya.  Lulus Akpol 1996, Budi ditugaskan di Timor Timur sebagai kapolsek. Banyak pengalaman menarik saat bertugas provinsi yang kini menjadi negara Timor Leste tersebut.

Dia kerap menghadapi perkelahian  antarkampung. Lewat pendekatan ke pastur dia mampu menyelesaikan tawuran tersebut. “Padahal saya sudah siapkan pasukan,” paparnya.

DIPALAK PREMAN

Delapan tahun kemudian dia  bertugas di Jakarta Selatan sebagai Kanit Harda hingga Kanit Resintel Polsek Kebayoran Baru  pada 1999.  Selanjutnya  masuk PTIK, dua  tahun kemudian  ditempatkan di Jawa Tengah sebagai Kasat  Reskrim Polres Tegal, sebelum ditugaskan sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Setelah tak lagi bertugas di KPK, Budhi ditarik  ke Polda Metro Jaya dan ditugaskan sebagai Kapolsek Tanjung Priok pada 2010. Pengalaman menarik saat  menjabat  kapolsek di daerah tersebut.

“Saat itu jalan utama  ambles dan pengendara dialihkan ke jalan sementara. Di jalan sementara itu, kerap terjadi pemalak terutama bagi pengendara motor,” cerita Kombes Budhi.

Sebagai upaya penegakan hukum, Budhi menyamar sebagai pengendara. “Saat melintas di jalan itu, saya  dipalak. Saya menolak, tapi dibentak dan dicaci maki. Saat cekckok itulah, anggota yang membuntuti datang meringkus pemalak. Mereka kaget dan tak percaya, ternyata yang dipalak kapolsek,” tukasnya tertawa. (yahya/iw)

Terbaru

Petugas Damkar Kota Depok berhasil memadamkan api membakar rumah warga di Pancoran Mas (ist)
Selasa, 15/10/2019 — 11:00 WIB
Diduga Korsleting Listrik, Satu Rumah Warga Terbakar
KPK-yendhi
Selasa, 15/10/2019 — 9:26 WIB
Bupati Indramayu Kena OTT KPK