Tuesday, 19 November 2019

Bukti Punya Tanah Air

Minggu, 13 Oktober 2019 — 6:52 WIB
DUL-13-10

Oleh S Saiful Rahim

“WAH gayamu tidak seperti biasa, Dul! Jangan-jangan ini petanda kiamat sudah dekat,” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk warung Mas Wargo, setelah mengucap “Wa alaykum salam,” menjawab salam Dul Karung.

“Apanya yang berubah? Mukanya tetap kusut seperti baju belum disetrika,” tanggap orang yang duduk di depan Mas Wargo.

“Kalau mukanya sih memang tidak berubah. Cuma kali ini dia datang tidak dengan berjalan kaki, tapi naik sepeda,” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk lagi.

“Alhamdulillah! Diberi oleh Pak Presiden, kali? Kan satu-satunya presiden di dunia dan di sepanjang sejarah, cuma Pak Jokowi yang suka membagi-bagi sepeda. Dan, barangkali untuk cari muka,  Gubernur Jakarta pun repot membuat ratusan, atau mungkin ribuan,  kilometer jalur khusus jalan sepeda sebelum Ibukota dipindahkan ke bekas hutan di luar Pulau Jawa,” kata entah siapa dan duduknya di sebelah mana.

“Ei, ei,ei jangan dipanjang-panjangi bicara yang tak perlu. Apalagi menyindir-nyindir orang. Lebih baik  istighfar kita perbanyak agar segala noda yang ada di hati masing-masing, dibersihkan Allah Swt,” kata orang berkopiah yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Setuju, ustadz!” sambar orang yang duduk di kanan Dul Karung, merespons omongan orang yang berkopiah.

“Seperti kita semua, dunia itu sudah tambah tua. Iklim dan musim saja sudah kian kacau. Baru beberapa hari kita baca di koran dan lihat di televisi, ada kebakaran besar di Jatinegara. Eh, kemudian disusul banjir melanda rumah dengan kedalaman lebih dari semeter. Banyak perabot rumah tangga dibawa lari Kali Ciliwung,” sambung orang yang duduk di kanan Dul Karung.

“Sebenarnya sepeda yang saya bawa itu juga salah satu barang titipan tetangga yang kebanjiran. Saya sengaja pake  berharap berpapasan dengan Pak Gubernur kalau beliau meninjau daerah banjir. Rupanya karena sibuk dengan rencana-rencana seperti balapan mobil listrik, menyulap trotoar Jl Thamrin-Sudirman menjadi seperti trotoar yang beliau lihat di Amerika, jadi beliau tak sempat meninjau warga kota yang  kelebu,” kata Dul Karung yang biasanya tidak banyak bicara.

“Memang setiap ada banjir, Pak Gubernur harus meninjau? Bukankah banjir itu adalah salah satu bukti kita semua benar-benar punya tanah air. Kalau kebanjiran itu bukti kita punya air, kelak kalau kita meninggal akan dikubur. Itu bukti punya tanah. Jadi benarlah kita ini bangsa yang memiliki tanah dan air” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, menyambar omongan Dul Karung.

“Tahu saya, tahu. Kalau ada presiden yang senang memberi hadiah sepeda, lalu ada pula gubernur yang menyiapkan fasilitasnya, mulai dari jalan sepanjang 500 kilometer. Dan nanti setiap kantor, bahkan setiap gedung, harus dilengkapi fasilitas parkir sepeda. Nah, kan hebat tuh. Mestinya para kepala daerah lain pun rame-rame mengikuti langkah Kepala Daerah Khusus Ibukota itu,” sambung Dul Karung.

“Tapi parkirnya nggak boleh utang, ya!” entah kata siapa. Mau menyindir Dul Karung telah jauh meninggalkan warung dengan bersepeda. (***)