Thursday, 14 November 2019

Lidah Tak Bertulang

Senin, 14 Oktober 2019 — 6:43 WIB

Oleh Harmoko

ADA ungkapan mengatakan bahwa lidah yang tidak bertulang justru lebih tajam dari pedang. Mengapa? Karena banyak permusuhan terjadi, tidak sedikit karena hal sepele menjadi masalah besar, kawan menjadi lawan hanya karena “ucapan” yang dikeluarkan oleh “lidah yang tak bertulang” itu.

Tidak heran banyak tokoh dunia, apakah itu negarawan atau dermawan, politisi atau akademisi, ulama dan pendeta kerap berpesan kepada kita agar senantiasa menjaga lisan alias lidah.

Agama apa pun, Islam misalnya,  mengajarkan bahwa kita sangat perlu berhati- hati dalam berbicara. Berpikir ulang seribu kali sebelum mengeluarkan sepotong kata – kata.

Jika dirasa apa yang akan dibicarakan atau diucapkan, tidak mengandung banyak manfaat, lebih baik diam mendengarkan.

Kita paham betul, lisan bisa membuat orang bahagia dan menderita. Ucapan bisa membuat orang tertawa dan menangis, tersenyum dan manyun. Ucapan bisa membuat orang naik derajat, pangkat dan jabatan. Tapi bisa juga menjadikan seseorang turun derajat, pangkat dan bahkan kehilangan jabatan.

Tidak dapat dipungkiri ucapan seseorang ada yang dapat membuka dan menutup peluang orang lain. Tidak sedikit pula hanya karena sepotong ucapan membuat orang sakit hati yang  berujung dendam sebagai embrio permusuhan dan kekacauan.

Itulah perlunya kesadaran diri untuk senantiasa merenung, menilai, mengkalkulasi untung ruginya terhadap ucapan yang akan disampaikan dan dampak yang ditimbulkan.

Jika banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya, lebih baik diam. Sebab, diam akan mendidik jiwa menjadi berakhlak mulia. Kata pepatah dan petuah leluhur pun menyatakan “diam itu emas.”

Banyak tokoh dunia sukses bukan karena banyak omongnya, tetapi  justru sedikit bicara banyak berkarya.

Seperti pengalaman pribadi Bernard M Baruch, negarawan dan dermawan AS. “*Orang-orang sukses yang saya kenal adalah mereka yang lebih banyak mendengar daripada berbicara*.”

Ada juga pepatah yang menyatakan “*Jika satu pesan dapat disampaikan dengan satu kata, mengapa harus dengan dua kata atau tiga kata*.”

Memang kata kedua dan ketiga tidaklah menjadi masalah, tetapi kelebihan berbicara adalah perbuatan tercela karena, paling tidak akan membatasi orang lain untuk berbicara. Apalagi bicaranya “ngalor ngidul” yang tanpa disadari bisa nyerempet – nyerempet keburukan orang lain.

Lantas bagaimana dengan politisi dan atau anggota Dewan atau parlemen?
Mereka memang menjadi terhormat kalau banyak omong. Tetapi tentu saja bukan “*waton ngomong*” – bukan asal bicara. Mereka yang *waton ngomong* – berbicara asal bunyi, selain percuma membuang waktu, juga dapat menurunkan kehormatan diri sendiri.

Sudah sewajarnya “*Yen ngomong sing maton*”  – kalau bicara yang mendasar.
Selain memperhatikan tata krama, sopan santun, adat dan budaya, juga cukup kuat alasannya dan sangat mendasar pijakannya.

Yang lebih mendasar lagi, apa yang diucapkan sesuai kenyataan. Senyawa antara kata dan perbuatan. Boleh jadi semua orang pandai bicara, bisa tampil penuh euforia di hadapan publik, tetapi jika perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya, sama dengan mencela diri sendiri. Apalagi mereka yang banyak bicara tanpa fakta. Pepatah Jawa mengatakan “*Kakehan gludhug, kurang udan* – banyak bicara tanpa kenyataan.

Itulah kias bagi orang yang terlalu banyak bicara, tapi tidak ada outputnya –  tanpa karya nyata. Bahkan, perilakunya jauh menyimpang dari apa yang diucapkan. Dalam kiasan sehari – hari sering disebut “*omdo*”.

Merujuk kepada uraian tadi dapat kita katakan bahwa derajat moral (kualitas diri) seseorang akan tercermin dari; 1. Lisan ( ucapan), 2. Perbuatan dan 3. Selarasnya ucapan dengan perbuatan.

Ketiganya tak dapat dipisahkan, tetapi saling mengait antara satu dengan yang lain. Derajat atau tingkatan makin tinggi, jika mampu melaksanakan ketiganya dalam kehidupan sehari – hari. Lebih – lebih di era kini, di mana media digital sangat memberi ruang bagi setiap orang, di mana saja dan kapan saja, bisa “berucap.” Baik secara lisan, dengan tulisan, maupun oleh perbuatan.

Kemajuan media digital, termasuk di dalamnya media sosial, diakui sebagai peluang, sekaligus tantangan.

Kita jadikan kemajuan itu sebagai peluang meningkatkan kualitas diri.
Hendaknya organ tubuh yang kita miliki  sebagai karunia Ilahi,  kita gunakan untuk hal – hal yang bermanfaat, paling tidak bagi diri sendiri.

Gunakan lidah dengan lembut untuk berbicara yang baik – baik. Untuk kebaikan orang lain, bukan kebaikan diri sendiri. Gunakan perkataan untuk mengajari diri sendiri, bukan memaksakan kehendak kepada orang lain.

Selaraskan perkataan dengan perbuatan, bukan menjauhkan perkataan dari perbuatan.

Sadari sepenuh hati bahwa perkataan wajib dipertanggungjawabkan. Ingat! Perkataan yang baik, mungkin cepat dilupakan, tetapi perkataan yang buruk, apalagi sampai menyakiti hati orang, akan selalu dikenang.

Kita perlu kontrol diri karena “*Memang lidah tak bertulang*
*tak berbekas kata-kata*..”
Jangan sampai ” *Tinggi gunung seribu janji, *
*lain di bibir lain di hati*..” seperti lirik lagu yang dulu dinyanyikan Bob Tutupoly. (***)