Sunday, 17 November 2019

Komitmen Kebangsaan

Rektor: Penangkapan Dosen IPB, Kami Menuai ‘Badai Tsunami’ Hujatan

Senin, 14 Oktober 2019 — 23:41 WIB
Prof Mahfud di IPB

BOGOR – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB)  Univercity, Arief Satria berikut perwakilan wali amanat, perwakilan alumnus, dosen, dan mahasiswa menandatangani komitmen kebangsaan di Gedung Graha Widya Wisuda (GWW) Kompleks IPB Dramaga Bogor, Senin 14 Oktober 2019.

Komitmen ini sekaligus meneguhkan komitmen dan jati diri IPB Univercity sebagai rumah kebhinekaan. Menurut Rektor, IPB tidak memberi ruang untuk paham yang bertentangan dengan Pancasila.

Bagi Arief hanya ada satu dasar negara di Republik Indonesia yakni dasar negara Pancasila.  Komitmen IPB Univercity ini diakui Rektor unyuk  menyikapi dinamika terkini yang berimbas ke IPB. Sebelumnya salah satu pengajar IPB ditangkap polisi dengan dugaan terlibat aksi teror.

“Peristiwa penangkapan salah satu dosen IPB beberapa waktu lalu, kami menuai beragam hujatan terkait insiden itu. IPB terkena ‘badai tsunami’, tapi dosen dan seluruh civitas akademi solid mengawal kebangsaan,” kata rektor.

Penandatanganan komitmen kebangsaan dilakukan sebelum acara diskusi kebangsaan Bincang Seru bersama Prof Mahfud MD, dari BPIP.

Sebanyak dua ribu mahasiswa hadir dalam acara tersebut. Semua menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pembukaan acara. Rektor melanjutkan, selama ini pihak kampus telah melakukan aksi-aksi nyata untuk merawat keberagaman.

“Mahasiswa IPB berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Kamu saling menghormati perbedaan dan fokus dengan inovasi,” ujarnya.

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof Mahfud MD sangat mengapresiasi komitmen kebangsaan yang diserukan segenap civitas akademika.

“Ada yang bilang IPB kampus radikal. Itu pencemaran nama baik, bahkan fitnah,” kata Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila itu.

Dia kembali mengingatkan potensi keberagaman Indonesia, dan itu akan menjadi kekuatan besar jika bersatu. Persatuan adalah modal besar sejak perjuangan mendapatkan kemerdekaan dan mengisinya.

Dengan modal kemerdekaan dan persatuan, Indonesia akan menuju puncaknya pada 2045.
“Dari jembatan emas menuju Indonesia Emas, kita merdeka karena bersatu, kita jaya karena bersatu,” katanya.

Acara diramaikan juga dengan pembicara-pembicara seperti penggagas Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, komika Arie Kriting, Cak Lontong.  (yopi/win)