Wednesday, 20 November 2019

Membahayakan, Odong-Odong Distop Operasi

Rabu, 16 Oktober 2019 — 5:32 WIB
odong-odong yang di stop operasi oleh petugas Sudin perhubungan Jaktim. (Ist)

odong-odong yang di stop operasi oleh petugas Sudin perhubungan Jaktim. (Ist)

JAKARTA – Petugas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur menindak sebuah odong-odong yang selama ini masih berkeliaran di wilayahnya. Dengan diberikan sangsi stop operasi, tindakan tegas itu dilakukan karena kendaraan tidak sesuai dengan keperuntukan.

Penindakan yang diberikan itu sebagai tindaklanjut atas laporan warga yang disampaikan melalui redaksi Pos Kota melalui pesan singkat yang bertuliskan Kepada Dinas perhubungan Jakarta Timur, tolong tindak keberadaan odong-odong yang selama masih beredar. Kendaraan itu tidak memikirkan keamanan dan mengganggu ketertiban. Tolong ditindaklanjuti, terima kasih. (08183392xxx)

Kasie Kasie Pengendalian dan Operasional Sudinhub Jakarta Timur, Slamet Dahlan mengatakan, penindakan yang dilakukan pihaknya untuk menjawab keluhan warga. Pasalnya, beredarnya odong-odong mengkhawatirkan keamanan penumpang yang ada didalamnya. “Dari laporan itu petugas kami langsung bergerak untuk melakukan penertiban,” katanya, Selasa (15/10).

Dikatakan Dahlan, dari penindakan itu pihaknya menjaring satu unit odong-odong yang masih berkeliaran di wilayah Rawa Bunga, Jatinegara. Kendaraan itu pun langsung diberi sangsi stop operasi karena tidak dilengkapi surat-surat. “Mobil dengan nomor B 2400 WT kita stop operasi karena Kir-nya juga sudah mati sejak Maret 2018 lalu,” ungkapnya.

Ditambahkan Dahlan, sangsi tegas yang diberikan pihaknya untuk memberi contoh kepada odong-odong lain yang ada. Hal itu bertujuan agar nantinya tak ada lagi odong-odong yang masih terlihat berkeliaran. “Kalau masih ditemukan, akan kami kandangi dan stop operasi. Karena fungsi yang digunakan sudah jauh berbeda,” tegasnya.

Dahlan menyebut, Sudinhub Jakarta Timur sendiri akan terus merazia odong-odong yang selama ini masih berkeliaran. Pasalnya, selain tidak sesuai dengan keperuntukan, mobil itu juga melakukan pelanggaran perubahan bentuk. “Apalagi bentuk yang ada saat ini tidak memikirkan faktor keamanan. Terlebih, selama ini juga anak-anak yang kerap menjadi penumpangnya,” pungkas Dahlan. (ifand/yp)