Thursday, 14 November 2019

Miskin Harta, Kaya Hati

Kamis, 17 Oktober 2019 — 6:13 WIB

Oleh Harmoko

JIKA kita ditanya pilih yang mana: 1.kaya harta, tapi miskin hati atau 2. miskin harta, tapi kaya hati?
Jawabnya bisa jadi tidak memilih salah satu dari keduanya, atau tidak memilih keduanya karena yang dikehendaki adalah kaya harta dan kaya hati.

Jawaban seperti ini cukup manusiawi karena setiap manusia tentu memiliki obsesi untuk hidup serba berkecukupan. Dengan harta yang dimiliki akan memudahkan seseorang menjadi kaya hati.
Ini dapat dipahami, jika kaya hati menjadi tujuan hidup, sementara kaya harta menjadi sarana penopangnya.

Tapi fakta kadang berbeda, banyak di antara mereka yang memiliki banyak harta, tidak mengimbangi hidupnya dengan kaya hati. Dalam keseharian tidak mencerminkan perilaku kaya hati, malah cenderung miskin hati.

Mengapa bisa demikian? Cukup beragam alasan yang dapat dikemukakan. Tetapi, boleh jadi, karena melimpahnya harta menjadi tujuan utama hidupnya di dunia.

Hanya memandang dunia dari sisi lahiriyah saja, sesuatu yang menarik, sesuatu yang indah dan tampak mewah. Seluruh hidupnya diperuntukkan untuk mengejar kemewahan dunia.

Sementara kemewahan tak ada yang abadi, sebagaimana hidup di dunia ini yang diibaratkan “mung mampir ngombe“- cukup singkat – hanya sebentar. Sekedar “numpang minum” belaka.

Acap salah kaprah dalam menyikapi hidup yang cukup singkat ini dengan berlomba menumpuk harta. Selagi masih ada kesempatan, berbagai cara dilakukan meski harus melanggar etika, norma, bahkan agama. Maraknya kasus korupsi menjadi indikasi adanya jalan pintas bagi mereka yang tidak pernah merasa puas, apalagi bersyukur atas apa-apa yang sudah dimiliki.

Tak sedikit mereka yang sudah berlimpah harta, pangkat, jabatan dan kedudukan, masih saja melakukan korupsi. Ini tidak lain karena terjerat godaan duniawi ingin terus memiliki, tanpa adanya kontrol diri.

Selalu merasa kurang, tidak pernah merasa cukup atas apa yang telah diterimanya, tidak merasa puas atas limpahan harta yang telah dimilikinya, menjadi cermin orang yang kaya harta, tapi miskin jiwa (hati).

Kemiskinan hati bisa disebut penyakit berbahaya karena dapat menggangu kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dapat pula merusak tata perekonomian negara karena munculnya dorongan hati untuk melakukan pungli, manipulasi, korupsi, dan entah apalagi. Dan semua itu akibat sifat serakah dan tidak pernah merasa puas diri.

Di era sekarang, di tengah situasi ekonomi yang belum benar – benar pulih, di tengah masih adanya ketimpangan dan kesenjangan sosial ekonomi, makin diperlukan keteladanan banyak pihak untuk memelopori sifat “kaya hati.”

Karena dengan kaya hati, seseorang akan menjadi qana’ah ( merasa cukup) atas rezeki yang diterimanya. Dia tidak mengharapkan tambahan, tanpa kebutuhan. Tidak terus menuntut dan meminta.

Dalam pepatah Jawa disebut “Nrimo ing pandum” Nrimo = menerima, pandum = pemberian. Atinya menerima segala sesuatu– apa adanya saja. Tanpa berharap, apalagi menuntut, yang tidak – tidak. Tidak menutut yang bukan haknya.

Kaya hati juga akan menjauhkan diri dari sifat serakah dan iri manakala melihat orang lain memperoleh nikmat.  Orang yang kaya hati akan mensyukuri nikmat yang bagaimana pun kondisinya, dan ikhlas menerimanya.

Mari kita singkirkan penyakit “miskin hati” dan menjadi “kaya hati” dengan mengubah sifat iri hati menjadi murah hati, sifat serakah menjadi qana’ah, dan sifat kufur menjadi syukur.

Sifat – sifat semacam ini sangat diperlukan sejalan dengan gerakan “revoluisi mental “ untuk membangun Indonesia baru yang bebas dari pungli, manipulasi dan korupsi, lebih- lebih dalam menyongsong pemerintahan baru mendatang yang semakin penuh dengan beragam tantangan.

Mari kita memperkaya hati. Sebab, kata Aristoteles, filsuf  Yunani: Belajar tentang pikiran dan ilmu pengetahuan tanpa belajar memperkaya hati, sama dengan tidak belajar apa – apa. Wallahu ‘alam (*)