Sunday, 17 November 2019

Aipda Amirullah, 7 Tahun Jaga Tahanan Ditemani Burung Beo

Jumat, 18 Oktober 2019 — 8:08 WIB
Aipda Amirullah, Bhabin Kelurahan Gambir, Jakpus. (silaen)

Aipda Amirullah, Bhabin Kelurahan Gambir, Jakpus. (silaen)

TUJUH tahun bertugas menjaga tahanan, pasti suatu saat ada kejenuhan. Ini pernah dirasakan Aipda Amirullah.

Menghilangkan rasa bosan tapi tetap fokusi menjaga tahanan, dia punya kiat sendiri.  Bintara tinggi ini memelihara burung beo. Saban hari burung 4 bulan itu dirawat dan diajak bicara.

Setahun kemudian burung ini mampu menirukan ucapannya. Aipda Amirullah dan para tahanan terhibur dengan celoteh burung ini.  Kini, burung itu berusia 13 tahun.

Hampir semua nama anggota di Polsek Senen, dikenali burung ini. Bahkan nama anggota yang sudah dimutasikan ke polsek lain termasuk majikannya, Aipda Amirullah, masih diingat burung ini.

“Saya sering kangen dengan burung itu, makanya kerap bermain ke Polsek Senen di luar dinas. Burung itu langsung memanggil saat saya datang,’oh ooh, pak kabar bos?’ Saya jawab,’ ‘baik, baik.’ Burung itu menyahut,  ‘baiklah kalo begitu’ Obrolan dengan burung ini membuat saya rindu dan tertawa lepas,” ujarnya.

Lebih Enjoy
Tak terasa 18 bulan sudah Aipda Amirullah tak lagi bercengkrama  dengan burung kesayangannya. Dia kini disibukkan sebagai anggota Bhabinkamtibmas  yang setiap hari berkeliling di Kelurahan Gambir. Willayah yang masuk ‘Ring Satu’ ini memaksanya pula memantau setiap aksi demo yang digelar berbagai elemen masyarakat.

Namun dia jalani enjoy. “Dulu hanya ‘berteman’ para tahanan dan burung beo, kini menambah wawasasan dan pergaulan. Saya banyak tahu dan berinteraksi langsung dengan masyarakat terutama situasi yang berkembang saat ini,” katanya. Meski pergaulan dan pengetahuan bertambah, Aipda Amirullah,  tinggal bersama istri dan putra semata wayangnya berusia 4 tahu di Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

“Bila senggang dan bebas tugas, saya pulang ke Gunung Putri setiap Sabtu berccngkrama dengan keluargan,” ujarnya. Senin subuh dia sudah kembali ke posnya hingga lima hari ke depan. “Namun bila, ada aksi demo pada Sabtu, saya tak bisa pulang. Kangen dengan anak istri cukup lewat video call atau WhatsApp,” ucapnya.

Kusam
Saking jarangnya pulang, dia sampai lupa pakaian dinas sudah lusuh. Pernah, suatu hari dia hendak memberikan penyuluhan Kamtibmas, ditegur karyawan kebersihan polsek karena pakaian dinas kusam. “Saya buru-buru pinjam setrikaan  kayawan kebersihan lalu disemprot minyak wangi. Alhamdulilah pakaian dinas terlihat rapih kembali dan wangi,” ujarnya tertawa.

Amirullah,  berasal dari ‘anak kolong’ sebab bapaknya  pesiunan bintara TNI AU. Sejak kecil, dia bercitacita ingin jadi polisi. “Jadi polisi itu gagah. Musuhnya penjahat. Apalagi kalu sudah bawa pistol, penjahat pasti takut,” kenangnya. Sebab itu sejak lulus STM 1998, dia mendaftar ke Akpol. Tapi dua kali gagal.

Tekadnya menjadi insan Tribrata mengantarkan Amirullah masuk ke Sekolah Polisi Negara di  Lido, Kab. Bogor. Lulus tahun 2000 dia ditempatkan di Polres Jakarta Pusat lalu dimutasikan ke Polsek Senen sampai akhir 2017. Sejak 2005-2012 dia ditempatkan menjaga kamar tahanan hingga akhinya  memelihara burung beo menemainya selama bertugas. (silaen/iw)

Terbaru

Benny K Harman. (rizal)
Minggu, 17/11/2019 — 23:58 WIB
Demokrat Tolak Amandemen UUD 1945
Lutfi JW. (mia)
Minggu, 17/11/2019 — 22:00 WIB
Bersama Roy Kiyoshi
Ruben Onsu Disarankan Undang Penuduh Pesugihan Makan Siang Bersama