Wednesday, 20 November 2019

Guru Ngaji Cabuli 7 Anak, Ditangkap Polisi

Minggu, 20 Oktober 2019 — 21:11 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA – Tujuh bocah perempuan yang masih duduk di bangku SD diduga jadi korban pencabulan di wilayah Jatinegara, Jakarta Timur. Pelakunya adalah oknum guru ngaji yang setiap aksinya selalu memberi uang Rp5 ribu sampai Rp40 ribu.

FS, alias AI, oknum guru ngaji yang saat ini sudah diamankan unit Perlindungan, Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jakarta Timur. Pria tersebut digelandang ke kantor polisi dengan pengawalan TNI dan Polri setelah sebelumnya nyaris diamuk warga yang geram atas aksinya.

Bambang Purwanto (55), pengurus RW setempat mengatakan, perbuatan AI terungkap usai satu korban berinisial MA mengeluhkan sakit saat buang air kecil. “Ibunya korban curiga, terus ditanya sakit kenapa. Ceritalah anaknya kalau jadi korban pencabulan. AI ini guru mengaji untuk ibu-ibu,” katanya, Minggu (20/10/2019).

Dari laporan korban, kata Bambang, sang ibu berupaya mencari informasi ke sejumlah teman-teman anaknya lalu menemukan korban lainnya. Hasilnya, diketahui ada tujuh bocah perempuan yang mayoritas berusia di bawah 11 tahun dan mengaku jadi korban AI. “Jadi ibunya MA enggak langsung laporan ke polisi, dia cari informasi dulu. Dapatlah tujuh korban ini, korbannya ini ada di tiga RW,” ujarnya.

Karena banyak korban, kata Bambang, ibu MA langsung melaporkan pelaku ke Unit PPA Polres Jakarta Timur. Sekitar satu pekan lalu, berkoordinasi dengan RT/RW dan Kelurahan setempat untuk mengamankan pelaku. “Jumat (18/10/2019) malam AI langsung dibawa ke Polres, tapi sempat dibawa ke kantor RW. Kami tanya apa benar dia melakukan itu, tapi dia membantah,” tuturnya.

Saat diamankan di kantor RW, Bambang menyebut, puluhan warga setempat emosi sehingga AI nyaris diamuk puluhan warga meski berhasil diamankan aparat. Beruntung pelaku masih bisa aman melenggang saat dibawa petugas. “Kalau bikin laporan sudah, ada tiga orang tua korban yang bikin laporan. Infonya hari Senin depan hasil visum dari korban keluar,” terangnya.

Dalam menjalankan aksinya, tambah Bambang, pelaku selalu memberikan sejumlah uang usai mencabuli para korban di rumahnya. “Jumlahnya bervariasi, ada yang Rp5 ribu, Rp10 ribu, Rp40 ribu. Beberapa korban ada yang mengaku lebih dari satu kali dicabuli,” tambahnya.

Uang tersebut diduga jadi modus AI agar para korbannya yang masih murid SD tak melapor perbuatan kejinya dan melawan saat dicabuli. Terlebih, dari semua korban yang ada berasal dari keluarga yang secara ekonomi menengah ke bawah. “Namanya anak-anak senang jajan, jadi kalau dikasih duit ya pasti dekat sama yang ngasih duit. Apalagi orang tua korban ini sibuk kerja semua,” ujarnya.

Dari pengakuannya juga diketahui pelaku sudah melakukan aksi bejatnya ke sejumlah korban, Agustus 2019. Namun aksinya baru diketahui awal bulan Oktober 2019 kala satu korban berinisial MA mengeluhkan sakit saat buang air kecil.

“Dari anaknya sendiri masih takut cerita. Tapi keterangannya mereka sering dicabuli bulan Agustus lalu. Kalau korban yang baru lapor kemarin bilangnya baru pertama dicabuli,” ujarnya. (ifand/ys)