Sunday, 17 November 2019

Taruna Poltekim yang Tewas Disebut-sebut Dapat Hukuman Lari dari Senior

Minggu, 20 Oktober 2019 — 6:03 WIB
Siswa Poltekim semasa hidup.

Siswa Poltekim semasa hidup.

JAKARTA – Seorang siswa taruna Politeknik Imigrasi (Poltekim) yang bernaung di bawah Kementerian Hukum dan HAM, tewas, Sabtu (19/10).

Korban yang diketahui mengidap penyakit menghembuskan nafas terakhirnya usai disiksa sang senior yang memintanya terus berlari meski tak melakukan kesalahan.

Yonathan Nicholas Manullang, siswa taruna tingkat satu ini yang menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu (19/10) pagi. Nyawa pemuda yang kabarnya mengidap sakit berbahaya itu, tak dapat tertolong meski sudah dilarikan ke Klinik Gandul Medika.

Berdasarkan informasi yang didapat, tewasnya siswa taruna asal Lampung ini terjadi pada Sabtu (19/10) sekitar pukul 09.00. Di pagi hari yang cerah itu, korban bersama rekan-rekannya tengah sibuk bermain marching band. Dimana dalam kegiatan itu, juga sekaligus penyerahan alat musik dari senior untuk diterima oleh juniornya.

Diduga, saat itu korban melakukan kesalahan dan sang senior tampaknya kesal dalam prosesi serah terima alat itu. Akibatnya, siswa taruna tingkat satu ini pun diberi hukuman untuk berlari. Saat baru lari sekitar 100 meter, Jonathan lemas dan akhirnya terkapar di tanah.

Oleh rekan-rekannya dan senior yang ada, pemuda asal Lampung ini langsung dilarikan ke Klinik Gandul Medika. Namun nyawanya tak dapat tertolong dan korban tewas. Dari klinik tempat korban mendapat pertolongan itu, Jonathan pun di rujuk ke RS Puri Cinere untuk mendapatkan kepastian lebih lanjut.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum dan HAM, Min Usihen mengatakan, memang benar ada satu siswa taruna yang tewas saat sedang melaksanakan latihan marching band. “Pada saat aba-aba untuk istirahat dan menuju posisi duduk tiba-tiba korban pingsan dan kejang,” katanya saat di konfirmasi.

Ketika disinggung apakah korban tewas akibat hukuman lari, Mien membantahnya karena menurutnya Jonathan masuk dalam kelompok marching band.

“Kalau yang kelompok kesamaptaan memang tidak ada pegang alat musik. Kelompok itu melakukan kegiatan lari dan olah raga serta membersihkan lingkungan asrama,” terangnya.

Meski begitu, Mien menyebut, memang siswa taruna tersebut memiliki riwayat sakit jantung dimana ritme jantung yang tidak stabil. Padahal seharusnya, untuk menjadi seorang taruna, dilakukan pemeriksaan kesehatan yang ketat sehingga pengidap jantung tak akan lolos.

“Kami juga mendapat penjelasan keluarga (ibu korban), bahwa Yonathan memang mengalami permasalahan di jantung (ritme jantung tidak stabil),” pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolsek Limo Kompol Mohamad Iskandar mengatakan, korban memiliki riwayat penyakit tipus.  “Korban mengidap penyakit tipus, ada dugaan karena dipaksakan mengikuti latihan drumban sehingga langsung drop kehabisan cairan hingga pingsan,” tambahnya. (Ifand/win)

Terbaru

Benny K Harman. (rizal)
Minggu, 17/11/2019 — 23:58 WIB
Demokrat Tolak Amandemen UUD 1945