Tuesday, 12 November 2019

Ingin Gagalkan Pelantikan Presiden, 6 Tersangka Siapkan Ketapel Besi

Senin, 21 Oktober 2019 — 17:50 WIB
konpers pmj ttg rencana gagalkan pelantikan - firdha

JAKARTA – Sebanyak enam orang diamankan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. Diduga, keenam tersangka itu berupaya menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019 – 2024, pada Minggu (20/10/2019).

Enam orang tersebut, yakni SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, para tersangka ini tergabung dalam satu grup percakapan di WhatsApp untuk menyusun rencana menggagalkan pelantikan itu menggunakan bahan peledak.

Argo mengungkapkan, tiap tersangka memiliki peran masing-masing. Tersangka SH sendiri pembuat dari grup WhatsApp tersebut. SH juga disebut berhubungan dengan Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith alias AB, dalam upaya menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

“Tersangka SH yang berperan membuat grup itu,” ujar Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin, (21/10/2019).

Namun SH tak hanya berperan sebagai pembuat grup, ia juga mencari dana untuk membuat peluru ketapel, serta menyediakan ketapel kayu dan besi.

Selanjutnya, tersangka E berperan sebagai penyandang dana yang membiayai pembelian ketapel. Tersangka E turut menyediakan bahan untuk peluru ketapel.

“Kemudian FAB, wirawasta, (berperan) membantu membuat peluru ketapel, menyediakan tempat atau rumah. (Dia juga) Memberikan dana sebesar Rp. 1,6 juta kepada SH,” kata Argo.

Sedangkan tersangka RH merupakan orang yang menjual dan membuat ketapel dari kayu pesanan SH. Sebanyak 22 ketapel pun telah terjual.

Kemudian tersangka HRS ditangkap lantaran memberikan dana kepada SH sebesar Rp400 ribu. Sementara itu tersangka PSM berperan membeli ketapel besi secara online, dan karet cadangan ketapel sesuai perintah SH.

“Tersangka PSM ditangkap di Bogor. Saat kita lakukan penangkapan, PSM berusaha untuk lari dengan cara memanjat atap rumah,” terang Argo.

Atas perbuatannya, keenam tersangka disangkakan dengan pasal 169 ayat 1 KUHP dan atau Pasal 187 ayat 1 KUHP, pasal 187 RKUHP pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Ri Nomor 12 Tahun 92 Undang-Undang darurat. Dengan ancaman lima tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara. (firda/yp)