Sunday, 17 November 2019

Jangan Asal Pilih Menteri

Senin, 21 Oktober 2019 — 8:17 WIB
Joko Widodo mengucapkan sumpah jabatan saat pelantikannya sebagai Presiden RI periode 2019-2024. (timyadi)

Joko Widodo mengucapkan sumpah jabatan saat pelantikannya sebagai Presiden RI periode 2019-2024. (timyadi)

JAKARTA – Hari ini, Senin (21/10), Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mengumumkan susunan kabinet periode 2019-2024.

Jokowi menegaskan, akan mengumumkan susunan kabinet,sebelum K.H. Ma’ruf Amin bertolak keJepang untuk menghadiri pelantikan Kaisar Jepang, Naruhito.

“Besok pagi (hari ini-red), saya kenalkan. Nanti sorenya, Pak Kyai Ma’ruf Amin harus ke Jepang menghadiri penobatan kaisar,” kata Jokowi dalam keterangannya, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).

Menurut Jokowi, para menterinya itu akan diperkenalkan dulu sebelum dilantik. “Ya dikenalkan dulu, kemudian dilantik. Ya kalau sudah dikenalkan mesti dilantik,” ujarnya.

Namun, Jokowi tidak menyatakan secara pasti kapan pelantikan akan dilakukan. Yang jelas, susunan kabinetnya sudah rampung.

Mengenai apakah ada menteri Partai Gerindra, Jokowi meminta melihatnya saat diumumkan. Sedangkan mengenai jumlah menteri dari partai politik yang kabarnya sebanyak 16 orang.

Jokowi tidak membenarkan, tetapi juga tidak membantahnya. “Ya, kurang lebih. Saya hitung-hitung, kurang lebih,” ucapnya.

Namun demikian,Jokowi mengaku menteri lama yang bertahan masih banyak. Tetapi menteri baru lebihbanyak. “Yang paling penting, saya kira setelah pelantikan kita kerja bersama, membawa Indonesia maju,” harap Jokowi.

Setelah memberikan keterangan, Jokowi langsung menuju Gedung DPR/MPR mengikuti pelantikan dirinya sebagai presiden terpilih.

Saat dalam perjalanan menuju Gedung MPR RI, Jokowi menyempatkan diri dari kendaraan yang ditumpanginya menemui sejumlah relawan yang sudah menanti-kan di Taman Sudut Pandang, Monas, Jakarta.

Slamuddin Daeng, pengamat ekonomi, meminta Presiden Jokowi jangan sampai salah memilih menteri. Sebab bisa terjadi PHK besar-besaran terhadap pekerja, menyusul menurunnya pertumbuhan ekonomi serta adanya resesi dunia.

“Perkembangan ekonomi global ini harus disikapi serius. Presiden terpilih harus mempertimbangkan keadaan ini dengan cermat. Kabinet yang akan dipilih harus merupakan respons terhadap melemahnya ekonomi global dan ancaman resesi,” katanya kepada Pos Kota tadi malam.

Bila salah memilih menteri, ia memastikan kondisi ekonomi bakal semakin goyah. Sebab pasar akan merespons negatif. Pertumbuhan ekonomi bisa stagnan. Apalagi awal tahun depan, para BUMN akan menaikkan harga barang dan jasa. Daya beli masyarakat bakal semakin nyungsep.

Pada akhirnya, kaya Salamuddin, banyak perusahaan yang terancam gulung tikar. Sehingga khawatir tahun depan bakal terjadi PHK pekerja besar-besaran.

Kondisi perekonomian semakin diperparah lagi, karena tak ada faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Ini terbukti Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas pertumbuhan ekonomi dari 3,3 persen menjadi 3 persen. Demikianpula pertumbuhan perekonomi di China turun dari 6,5 persen menjadi 6,2 persen. Ekonomi Singapura juga turun ke angka satu persen.

Karenanya, Salammudin menegaskan pengangkatan menteri harus teliti dan tidak semata mata bagi-bagi kekuasaan. “Indonesia membutuhkan kebijakan counter cyclical poicy untuk melawan resesi. Untuk itu fiskal Indonesia harus kuat,” ucapnya. (johara/bi/st)

**Berita ini dimuat di harian Pos Kota terbitan Senin, 21 Oktober 2019.

Terbaru

Benny K Harman. (rizal)
Minggu, 17/11/2019 — 23:58 WIB
Demokrat Tolak Amandemen UUD 1945
Lutfi JW. (mia)
Minggu, 17/11/2019 — 22:00 WIB
Bersama Roy Kiyoshi
Ruben Onsu Disarankan Undang Penuduh Pesugihan Makan Siang Bersama