Thursday, 14 November 2019

Menyiapkan Generasi

Senin, 21 Oktober 2019 — 8:13 WIB

Oleh Harmoko

BEGITU dilantik menjadi Presiden ke -32 Amerika Serikat, tahun 1933, Franklin Delano Roosevelt, menyampaikan pidatonya kepada publik. Ia memberi harapan kepada rakyat dan berjanji akan mengambil tindakan tegas dan cepat untuk mengatasi masalah yang tengah menimpa negerinya.

Janjinya dipenuhi. Ia mampu memulihkan AS dari depresi berat. Ia menciptakan sekian banyak proyek pemerintah dengan tujuan membuka jutaan lapangan kerja untuk membantu rakyatnya yang saat itu sulit mendapatkan pekerjaan dan dengan sendirinya sulit pula hidupnya.

Mengapa membuka lapangan kerja menjadi sangat penting? Roosevelt berpendapat “Bukan hanya kesehatan ekonomi masa depan kita perlukan tetapi juga sehatnya lembaga-lembaga demokrasi kita pun bergantung pada tekad pemerintah untuk memberikan pekerjaan kepada orang-orang yang menganggur.”

Maknanya, masa depan sebuah negara selain harus ditopang dari sehatnya perekonomian, juga sehatnya lembaga- lembaga demokrasi. Sementara lembaga tersebut akan menjadi sehat dan kuat, jika pemerintah mampu memberikan pekerjaan kepada rakyatnya yang menganggur.

Bicara lapangan kerja berarti bicara juga bagaimana menyiapkan generasi muda yang produktif, memiliki banyak alternatif untuk mengembangkan diri. Ini dapat dicapai  jika cukup banyak ragam lapangan kerja tersedia. Mau masuk ke mana saja pintu terbuka.

Sebaliknya kurangnya lapangan kerja membuat situasi tidak kondusif, baik dilihat dari aspek keamanan dan, apalagi, ketertiban. Belum lagi hadirnya masalah baru sebagai akibat meningkatnya angkatan kerja produktif, jauh dari sebanding dengan tersedianya jumlah lapangan kerja.

Karena tidak semua negara mampu memberikan pekerjaan kepada rakyatnya yang telah memasuki usia kerja. Tidak semua angkatan kerja terserap oleh lapangan kerja yang tersedia.
Idealnya setiap negara dibuat mampu, bahkan wajib, membangun masa depan generasi muda. Termasuk, bahkan terutama, dalam hal menyediakan lapangan kerja. Tetapi fakta menunjukkan tidak semua negara mampu melaksanakannya. Termasuk negara yang merasa dirinya sudah, atau benar-benar sudah, maju di sektor peremonomian sekalipun.

Karena itu, yang terutama harus dilakukan adalah “membangun generasi muda untuk masa depan.” Itu yang dilakukan Roosevelt ketika memajukan negerinya hingga dia tercatat sebagai tokoh abad 20 dalam sejarah Amerika. Ia juga satu-satunya presiden yang terpilih selama empat kali masa jabatan karena prestasinya jempolan.

Prestasi yang seperti itu pula yang  harus dapat dimaksimalkan oleh negara- negara berkembang. Termasuk, bahkan terutama bagi kita adalah Indonesia. Rasanya
tidaklah berlebihanlah mengingat para founding fathers kita sering mengatakan pemuda adalah harapan bangsa. Di tangan para pemuda lah nasib masa depan bangsa.

Bung Karno sendiri menempatkan begitu pentingnya peran pemuda. Ia terus memotivasi pemuda untuk terus berkarya memajukan bangsa lewat sejumlah kata mutiara, di antaranya, ” Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Sekarang persoalannya bagaimana membangun generasi muda yang mampu bersaing di era digital. Belum lagi tantangan masa depan yang ditandai dengan kian berkurangnya tenaga kerja manual akibat berkembangnya teknologi yang disebut sistem otomasi melalui penggunaan robot dalam proses produksi.

Sudah banyak industri besar mengurangi tenaga kerja manusia. Mereka memilih menggunakan robot dalam proses produksi dengan sejumlah pertimbangan, di antaranya lebih efisien dan efektif. Hasil pekerjaannya lebih seragam sehingga kualitasnya terjaga.
Falsafah dan realita teknologi seperti ini tidak mungkin ditolak. Karena itu realita. Yang perlu dilakukan sekarang adalah menyiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dan berkreasi dengan perkembangan teknologi.

Di sisi lain, dominasi angkatan kerja baru terus bertambah dengan yang berusia 15 – 24 tahun.  Persoalan ini pun tidak bisa diabaikan. Bahkan sebaliknya perlu ada penanganan segera dan profesional.
Ini tantangan berat negara saat ini dan mendatang.

Poin penting yang hendak disampaikan menyongsong pemerintahan baru mendatang adalah sbb:
Pertama, masalah tenaga kerja harus menjadi prioritas untuk diselesaikan, dengan memperbanyak penciptaan lapangan kerja baru, khususnya pekerja usia produktif.
Kedua, menyiapkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, baik di bidang industri, informasi dan komunikasi, sosial dan budaya.
Ketiga, mengedukasi generasi muda untuk tetap tangguh menghadapi persaingan yang begitu hebat, dengan meningkatan skill melalui jalur pendidikan dan pelatihan
Keempat, memotivasi bahwa pemuda Indonesia tidak kalah berkualitas dengan pemuda negara lain karena sejatinya negeri kita memiliki kelebihan ketimbang negara lain.

Membangun generasi berkualitas memang menjadi tugas negara, tetapi kita sebagai bagian dari bangsa hendaknya tidak abai dan duduk goyang kaki saja. Setidaknya menjadi berkualitas untuk diri sendiri, syukur – syukur berharga untuk kehidupan orang.
Albert Einstein, fisikawan Jerman bilang; Hidup yang berharga adalah hidup yang dapat memberikan kehidupannya kepada orang lain.(*).