Friday, 15 November 2019

Diana Wuisan, Pelatih Tenis Meja Nasional Banyak Mencetak Atlet Nasional

Selasa, 22 Oktober 2019 — 8:23 WIB
Diana Wuisan. (instagram))

Diana Wuisan. (instagram))

NAMA Diana Wuisan pernah menghiasi tenis meja Indonesia di masa kejayaan Bumi Pertiwi  mendominasi cabang tersebut di pentas SEA Games. Namun di era sekarang tenis meja Indonesia lebih banyak memunculkan konflik ketimbang prestasi, nama Diana pun seakan menghilang seperti ditelan bumi.

Usai pensiun sebagai pemain pada tahun 1985 melatih di klub PTM. Sanjaya (Surya) Kediri. Awalnya dia melatih para yunior. Belum genap dua tahun, polesan tangan dingin Diana mulai membuahkan hasil dengan bisa melahirkan atlet nasional seperti Rossy Syech  Abubakar, Ling Ling Agustin, Putri Hasibuan sampai Fauziah Yulianti. Nama-nama atlet binaannya itu hampir selalu berjaya hampir lebih 20 tahun lamanya untuk tenis meja Indonesia.

Menurut Diana,  prinsipnya pelatih dan atlet harus punya kesamaan visi.  Keduanya harus mempunyai jiwa pantang menyerah, berlatih keras, disiplin yang tinggi dan harus mempunyai mimpi dan target yang tinggi.

LEBIH KOMPLEK
Ditambahkan Diana, jadi pelatih itu persoalannya lebih komplek. Pelatih harus memiliki program yang jelas dan terarah serta bisa membaca karakter setiap pemain yang dibina. Selain itu harus pintar dalam  evaluasi kemajuan tehnisnya. Perkembangan non teknis atlet juga  harus dalam pantauan pelatih.

‘’Ini penting karena  perkembangan atlet yang dibina menjadi tanggungjawab penuh pelatih .Ada rasa tanggung jawab dengan hasil yang mau dicapai para atlet, apa lagi ada beban moral juga terhadap  para orang tua atlet yang mengharapkan anaknya sukses mengukir prestasi,’’papar Diana. “Nah ini ada yang hilang, sehingga prestasi tenis meja kita pun terus tak mampu bangkit,” imbuhnya.

Di masa melatih Diana dikenal menerapkan manajemen professional untuk mengelola Perkumpulan Tenis Meja (PTM) Surya Gudang Garam Kediri. Artinya pengurus, pelatih dan atlet, semuanya menekuni bidang pekerjaannya masing masing sebagai profesi agar dapat menghidupinya.

‘’Saya mengelola klub tenis meja di Kediri  sama seperti saya mengelolah sebuah perusahaan, menerapkan menajemen sumber daya manusia profesional. Pola makan dan pola hidup mereka semua sudah diformat sedemikian ketat, sehingga istirahat dan nutrisi harus cukup. Program dibuat sesuai proses : latihan, ujicoba dan evaluasi dan itu harus dilakukan berulang-ulang,” jelas Diana.

Dari situlah PTM Surya bisa menyumbangkan pemain-pemain ke tim nasional. Dari atlet putri muncul Rossy Syech Abubakar, Ling Ling Agustin, Putri Hasibuan, Fauzia Yulianti, Dian Yuliawati,Ester Megasari, Christin Ferliana, Silir  Rovani, Noer Azizah dan Widya Wulandari. Sedang di putra menelorkan Daddy Da Costa, M.Arkam,Yon Mardiono, Reno Handoyo, M.Hussein, Ficky Supit, Gilang Maulana dan Dahlan Haruri.

Punya SDM
” Kesimpulan saya kalau mau sukses dan berhasil di pembinaan,  syarat utama punya SDM yang kuat, punya program yang jelas jangka pendek, menengah atau panjang, serta memiliki sarana prasarana yang memadai. Dan prestasi bisa maju apabila bibit-bibit atlet harus banyak agar pembinaan dapat berjalan berjenjang dan berkesinambungan,’’urai Diana.

Empat kata kunci inilah  yang telah membawa Diana sukses dalam mengelolah PTM.Surya Gudang-Garam Kediri jadi klub terbaik dan tersukses dengan menghasilkan hampir seluruh atlet tenis meja handal di Indonesia. Ia  pun   sukses melahirkan atlet-atlet yang berprestasi Internasional serta meraih medali emas di SEA Games.

Sayangnya pada tahun 2009 PTM. Surya, Gudang Garam Kediri bubar dan Diana pun bersama sang suami Empie Wuisan kembali bergabung dengan keluarga di Jakarta. Tapi ia tak pernah berhenti berjuang, hingga dirinya   mengatualisasikan perjuangannya di organisasi Perwosi (Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia). Diana terinspirasi perjuangan Ibu RA Kartini. Pahlawan wanita Indonesia yang memperjuangkan emanspasi kaumnya itu.

Diana pun selalu menjadikan perjuangan RA Kartini sebagai inspirasi untuk membangun olahraga Indonesia . ‘’Saya hidup di zaman kemerdekaan hanya menyumbangkan tenaga dan pikiran saja.Waktu kecil sayapun masih belum mengetahui apa itu emansipasi wanita di tanah air, mungkin sangat kebetulan saja saya menyenangi olah raga,” jelas Diana. (prihandoko/bu)