Thursday, 14 November 2019

Menatap Masa Depan

Senin, 28 Oktober 2019 — 6:22 WIB

Oleh Harmoko

SEMUA orang memiliki mimpi, mempunyai harapan dan masa depan. Tetapi tidak semua yang diimpikan dan diharapkan sesuai dengan kenyataan.

Belajar dari sejumlah tokoh dunia; masa depan dapat diraih, dapat diwujudkan sebagaimana yang diimpikan, jika dilakukan dengan kerja keras.

Seperti pengalaman legenda pesepakbola dunia asal Brazil, Pele. Lewat “kata-kata mutiara”- ya dia berkata: “Sukses bukanlah suatu kebetulan. Sukses terbentuk dari kerja keras, pengorbanan, pembelajaran, ketekunan dan cinta pada apa yang Anda kerjakan.”
Ini dapat ditafsirkan bahwa dia mewujudkan mimpinya  menjadi pesepakbola dunia dengan melakukan kerja keras, penuh dengan ketekunan.

Tidak sedikit yang harus dikorbankan. Bukan hanya soal waktu, energi dan materi,  akan tetapi juga rasa bosan, jenuh dan berbagai kesulitan yang menghadang.
Mencegahnya, dengan cara tidak sempat dan tidak mencintai segala apa yang sedang dikerjakan.

Sejumlah literatur menyebutkan menuju sukses tidak sebatas duduk termangu-mangu menyesali keadaan masa lalu yang penuh kegagalan. Menuju sukses juga tak sebatas memiliki kemampuan teknis (hard skill) yang bisa didapat melalui belajar dan pelatihan. Yang lebih utama adalah kemampuan mengelola diri sendiri dan juga orang lain dengan apa yang sering disebut soft skill.

Sejumlah survey menyebutkan, hard skill hanya berperan 20 persen,  sedangkan soft skill menentukan 80 persen kesuksesan seseorang.

Karena itu ada beberapa syarat menuju sukses masa depan, di antaranya : berani mencoba, tidak takut gagal, percaya diri, jangan alergi kritik, punya rasa optimis, bukan pesimis.

Mampu merespons situasi, memiliki mental baja, tidak malas dan tidak cepat menyerah terhadap keadaan.

Sifat- sifat tersebut menyangkut, perilaku dan mental seseorang. Itulah yang lazim disebut soft skill. Maknanya adalah mengelola diri sendiri yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari – hari.

Itulah sebabnya sering dikatakan bahwa “aksi adalah kunci dasar untuk semua bentuk kesuksesan.”

Kita dapat pahami, melakukan aksi yang dimaksud, tidak semudah membaca teori.

Kesuksesan tidak mungkin, atau mustahil, dapat diraih secara   instan. Untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan panjang tanpa kenal lelah. Boleh jadi melaluinya penuh dengan tantangan dan kesulitan. Dan jangan lupa kadang- kadang kegagalan justru menjadi pemicu kesuksesan. Pengalaman masa lalu menjadi proses pembelajaran meraih sukses di kemudian hari.

Itulah perlunya sikap optimistis, tidak takut gagal dan tidak cepat menyerah oleh keadaan.
Bagi orang biasa, kesalahan atau kegagalan adalah penghalang. Namun, mereka yang memang memiliki jiwa dan mental sukses, lazimnya, akan belajar dari tiap kesalahan dan kegagalan yang telah dilakukan untuk memperbaiki diri di kemudian hari. Bukankah, banyak orang sukses karena berawal dari kegagalan.

Sering dikatakan, kegagalan adalah bumbu kehidupan. Dan kegagalan dapat menjadikan seseorang semakin hebat. Dengan syarat jangan cepat “keok” alias mengalah.

Jangan lupa apa yang dikatakan Thomas A. Edison : “Aku tidak gagal. Hanya saja aku menemukan 10.000 cara yang ternyata belum berhasil.”

Sudah teruji banyak tokoh dunia menjadi hebat karena ditempa banyak kesulitan. Sebut saja  Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan masih banyak lagi.

” Seseorang memerlukan kesulitannya, karena kesulitan tersebut adalah kebutuhan agar bisa menikmati kesuksesan.” kata  P.J Abdul Kalam, presiden India, tahun 2003 – 2007.

Di era era sekarang, negeri kita makin membutuhkan orang – orang yang tangguh guna menghadapi tantangan yang semakin beragam dan kompleks.

Tak berlebihan sekiranya dibutuhkan pemimpin yang mampu bekerja keras, kerja cepat, dan gesit merespons keadaan.

Tanpa kerja keras, kerja cepat dan cerdas, kita pasti makin ketinggalan langkah dengan negeri tetangga yang mana saja. Makin tertinggal oleh perkembangan  ilmu dan teknologi. Makin terseok, kian tertinggal mengikuti kecepatan perkembangan teknologi.

Kita tidak bisa menunggu dan duduk diam. Ubah kebiasaan banyak diam, menunggu dan terus berfikir,  tanpa dibarengi dengan sentakan aksi dan pasti. Kinilah saatnya menatap masa depan yang lebih cerah untuk kemajuan bangsa, negara, dan tentu juga ingkungan kita. Dan kita berdiri di garis terdepan.

Sekecil apapun pun aksi yang dilakukan pasti akan menghasilkan sesuatu dan sesuatu tersebut dapat membukakan jalan untuk menuju kesuksesan.

Kita meyakini di tengah kesulitan yang sekarang kita hadapi, pasti terdapat peluang. Tak ada jalan yang tidak berujung selama kita mampu menghadapi kesulitan. Itulah impian sejatinya masa depan.

Sebab, ukuran kehebatan seseorang bukan ketika ia berada dalam kondisi yang nyaman, aman dan mudah, tapi manakala ketika ia menghadapi tantangan dan kontroversi.

Mari kita tatap masa depan dengan beragam aksi nyata. Sekecil apa pun aksi  yang kita lakukan, insya Allah akan bermanfaat bagi diri kita.

Pesan moral, “Arti penting manusia bukan terletak pada apa yang dia peroleh, melainkan apa yang sangat ia rindukan untuk diraih,” kata Kahlil Gibran, penyair, penulis besar kelahiran Lebanon. (*).