Thursday, 14 November 2019

Milenial dan Sumpah Pemuda

Selasa, 29 Oktober 2019 — 9:20 WIB

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri tak terlepas dari perjuangan kaum pemuda belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Sejarah mencatat, Kongres Pemuda Kedua pada 27-28 Oktober 1928 telah melahirkan keputusan tiga poin penting yang menjadi landasan cita-cita bangsa ini yang dikenal sebagai ‘Soempah Pemoeda’.

Bertanah air satu, tanah air Indonesia; Berbangsa satu bangsa Indonesia; Berbahasa satu, bahasa Indonesia. Tiga butir isi Sumpah Pemuda, mampu membakar semangat perjuangan, menjaga persaudaraan, serta mempersatukan beragam agama, suku dan budaya di negeri ini.

Mengutip kata bijak Bung Karno, ‘Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia’. Ini membuktikan betapa energi pemuda begitu besar dalam berkontribusi membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar sehingga mampu berkompetisi di tengah persaingan global. Dan ini sudah teruji selama 81 tahun setelah Sumpah Pemuda digaungkan.

Kini memasuki era globalisasi, generasi milenial wajib terus mengobarkan semangat nasionalisme sebagai rumusan dari tiga butir Sumpah Pemuda. Tak ada satu pun negara yang bisa menolak kemajuan teknologi bila tak ingin tertinggal dalam pergaulan dunia. Konsekuensinya, gempuran dari luar baik dari sektor ekonomi, budaya dan lainnya gencar masuk ke pelosok negeri.

Bila tidak dibangun benteng yang kokoh melalui pendidikan karakter, budaya negeri sendiri dan rasa nasionalisme bisa terkikis.  Kaum milenial bakal lebih menguasai dan mengagumi budaya impor ketimbang warisan leluhur. Itu sebabnya karakter bangsa harus semakin dikuatkan melalui pendidikan.

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 5/PUU-X/2012 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sekaligus membubarkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) pada sekolah-sekolah pemerintah, sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah menjaga jati diri bangsa.

MK menyebutkan, pendidikan harus diarahkan dalam rangka memperkuat karakter dan nation building, dan tidak boleh lepas dari akar budaya dan jiwa bangsa, yaitu jati diri nasional, identitas, dan kepribadian bangsa serta tujuan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Putusan ini sangat sejalan dengan semangat nasionalisme dan menjaga jati diri bangsa.

Pendidikan adalah hal yang fundamental dalam membentuk jatidiri bangsa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, saat ini dijabat oleh kalangan milenial, Nadiem Makarim. Di tangan menteri muda ini karakter generasi muda harus dibentuk dengan tidak meninggalkan jati diri bangsa. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kita harus melahirkan generasi yang selain cerdas, juga bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak. Ini adalah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. **