Tuesday, 19 November 2019

Membangun Motivasi

Kamis, 31 Oktober 2019 — 6:42 WIB

Oleh Harmoko

Di era sekarang, setidaknya diperlukan pemimpin yang mampu meneladani, memberi motivasi dan memiliki kemampuan mencari solusi.

Meneladani, berarti memberikan teladan kepada semua orang yang dipimpinnya. Meneladani kepada siapa pun mereka yang berada di dekatnya, di sekitarnya. Termasuk mereka yang menjadi mitra kerja, rekan seprofesi dan para relasinya.
Keteladanan tidak saja menyangkut perkataan, sifat dan tingkah laku perbuatan, tetapi juga bagaimana memperlakukan orang lain, anak buah, dan lainnya. Menghargai orang lain, apa pun profesi dan jabatannya.

Itulah bukti pemimpin yang mulia.Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah menghargai apa yang telah dikerjakan orang lain, termasuk anak buahnya, dengan apapun dan bagaimana pun hasilnya.

Ini mengajak kita untuk tetap menghargai setiap proses pekerjaan. Dengan menghargai proses berarti menghargai jerih payah orang lain, meski hasilnya belum seperti yang diharapkan. Yang pasti, dengan adanya proses berarti program telah berjalan. Bilamana kemudian hasilnya belum maksimal, itu adalah tugas pemimpin mengarahkan.

Itulah sebabnya pemimpin pemberi pengarahan dan penghargaan sangat dibutuhkan di era digital ini.
Memberi motivasi bermakna mampu membangun semangat juang, semangat berkarya dan  menggerakkan orang – orang di sekelilingnya untuk melakukan perubahan menuju yang lebih baik.

Dengan motivasi maka akan ada dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan tertentu.

Dengan memberi motivasi, maka dapat menggerakkan sekelompok masyarakat melakukan sesuatu karena adanya keinginan mencapai tujuan seperti yang dikehendaki. Ada keyakinan diri bahwa apa yang akan dilakukan pasti akan mendapatkan hasil, dan memunculkan kepuasan diri terhadap semua hasil karyanya.

Keyakinan diperlukan untuk memotivasi diri seseorang. Keyakinan bahwa yang dilakukan adalah baik dan benar, akan membuahkan hasil. Sekecil apa pun hasil yang diperoleh akan bermanfaat bagi orang lain.

Jika seorang pemimpin dapat memotivasi, ratusan, ribuan apalagi jutaan anak bangsa, maka pasti akan terbuka jalan mencapai tujuan yang diimpikan. Lazimnya orang tergerak  melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.

Ini dapat terjadi pada mereka yang optimistis.
Ada pepatah mengatakan “Orang yang memiliki jiwa optimistis adalah mereka yang melihat lampu hijau di semua tempat. Sedangkan orang yang pesimistis hanya melihat lampu merah..,” seperti dikatakan Albert Schweitzer, filsuf Perancis.

Dengan begitu tugas pemimpin adalah menciptakan lampu hijau di setiap tempat untuk memuluskan jalan menuju cita – cita bangsa.

Lampu hijau itu kita ibaratkan sebuah solusi menyelesaikan problema, memecahkan masalah yang dihadapi.
Problem solving diperlukan karena tidak semua orang mampu mengatasi batu sandungan yang menghadang selama perjalanan.

Di saat seperti itulah, peran pemimpin untuk menunjukkan arah dan tujuan amat diharapkan.

Mengupdate arah yang lebih jelas dan rinci, lebih transparan  bagaimana cara terbaik mencapai tujuan seperti diharapkan.
Inilah yang disebut sharing kesuksesan.

Di tengah semakin berkembangnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, semakin dibutuhkan arah dan tujuan agar generasi era sekarang tidak terpapar dampak negatif era digital.

Kita tidak bisa menghindar dari kehadiran teknologi, mau tak mau harus pula ikut menggunakannya. Tetapi, bagaimana  menggunakannya secara baik dan benar, mengedepankan asas manfaat sebagai pola pendekatan.

Yang dibutuhkan lagi, bagaimana kita mampu merespons kehadiran teknologi, bukan sebatas sebagai pengguna. Bukan hanya sebagai konsumen yang merasa dimanjakan. Tetapi bagaimana meresponsnya sebagai produk yang perlu dikemas dan dikembangkan.
Di sinilah perlunya kehadiran pemimpin pemberi arah dan tujuan,  utamanya memotivasi generasi digital agar bukan hanya menjadi pengguna produk, tetapi pencipta produk digital.

Membangun motivasi generasi era kini semakin dibutuhkan walaupun akan menghadapi kendala, jika tanpa sosok idola dan keteladanan.

Generasi sekarang lebih cenderung melihat hasil, ketimbang proses. Artinya, keteladanan yang dibutuhkan bukan sebatas kata dan perbuatan yang dipertontonkan. Tetapi hasil karya nyata yang sudah teruji manfaatnya.

Tampilnya para pemimpin muda bisa menjadi satu upaya membangun motivasi. Dunia yang terus berubah dengan cepat, bukan lantas kita harus tersingkir karena adanya perubahan. Kita harus optimistis dan mampu menghadapi, bahkan memanfaatkan perubahan yang terjadi.

Hilangkan sikap pesimis yang menghambat perubahan.

Orang pesimis melihat kesulitan dalam setiap peluang. Orang optimis melihat peluang dalam setiap kesulitan,” seperti dikatakan Winston Churchill, politisi dan PM Britania Raya 1940 -1945.

Mari kita optimis dan siap untuk melakukan perubahan menuju kebaikan, menuju sukses dan sekaligus menuju Indonesia yang damai dan sejahtera.

Ada pesan moral ” Jangan menunggu dunia berubah, baru kita mulai berubah.” (*).