Sunday, 15 December 2019

Desain Baru Pelabuhan Benoa Disepakati, Ekonomi dan Pariwisata Bali Bisa Melaju

Minggu, 3 November 2019 — 22:11 WIB
Pengembangan pelabuhan Benoa.

Pengembangan pelabuhan Benoa.

JAKARTA – Setelah mendapatkan masukan dan usulan dari berbagai pihak, pengembangan dan penataan Pelabuhan Benoa kini memasuki fase baru.

Pengembangan pelabuhan oleh Pelindo III sebagai pengelola Pelabuhan Benoa, menunjukkan rancangan di mana kawasan akan dikelola sebagian besar sebagai hutan kota, dan sebagian lagi digunakan untuk terminal energi, industri perikanan, dan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL).

Direktur Utama Pelindo III Doso Agung menyebutkan industri perikanan di Pelabuhan Benoa adalah salah satu yang terbesar di Indonesia, terutama pengolahan tuna. Dengan adanya pengembangan kawasan industri perikanan dan pengolahan ikan di Benoa, industri perikanan dan nelayan setempat dapat memanfaatkan fasilitas yang ada sehingga ekspor tuna dapat ditingkatkan lebih maksimal.

“Yang fresh bisa langsung dikirimkan melalui Bandara Ngurah Rai, sedangkan yang beku bisa dikirim melalui Pelabuhan Benoa,” ujar Doso seusai rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Pemerintah Provinsi Bali, dan Pemerintah Kota Denpasar, di rumah dinas Gubernur Bali, Sabtu (2/11/2019).

Doso menjelaskan apabila dermaga Pelabuhan Benoa nanti telah jadi, kapal-kapal cruise yang bersandar di sana dapat dikelola secara lebih profesional, dan dapat didorong untuk menikmati wisata di luar kapal.

Sebab kapal cruise yang sandar waktunya antara 6 hingga 8 jam, dan penumpangnya akan dapat menikmati upacara penyambutan, atraksi, transportasi ke tempat-tempat wisata menarik dan sentra suvenir di luar pelabuhan hingga dapat menggerakkan industri pariwisata.

Selama ini, kapal cruise hanya di luar kolam pelabuhan karena tidak bisa masuk pelabuhan Benoa, dan wisatawan harus diangkut dengan kapal-kapal yang lebih kecil menyebabkan mereka enggan turun ke darat menikmati indahnya Bali.

Selain potensi pariwisata, menurut Doso Agung, penyediaan logistik untuk kebutuhan kapal juga menjadi peluang bisnis yang sangat besar dan dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha dan masyarakat di Bali.

Setiap kapal itu rata-rata mengangkut sekitar 2.000 wisatawan dan 1.500 kru. Selama ini kebutuhan logistik itu mereka dipasok dari di luar negeri, terutama Singapura.

“Daging, sayur mayur, buah-buahan, sampai dengan air bersih, disuplai dari Singapura. Padahal, setiap tahunnya berdasarkan catatan kami tahun 2019 saja, ada 79 kapal cruise yang bersandar di Pelabuhan Benoa,” katanya.

Diharpkan potensi tersebut nantinya dapat diambil oleh Bali, karena Pelindo III membangun cold storage raksasa, yang sebagian dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, selain untuk memenuhi kebutuhan industri perikanan setempat.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengaku gembira pengembangan Pelabuhan Benoa akhirnya desain final disepakati bersama dan menampung aspirasi banyak pihak.

Ia berjanji untuk mengawal dan memonitor pelaksanaannya. “Semua pihak telah bekerja untuk kebaikan bersama. Ini akan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat Bali,” tutur Wayan Koster. (dwi/yp)