Tuesday, 19 November 2019

Bijak Menyikapi Situasi

Senin, 4 November 2019 — 7:22 WIB

Oleh Harmoko

SEMAKIN mudahnya mengakses informasi dari segala penjuru tanpa batasan ruang dan waktu, merangsang semua orang cepat bereaksi – kadang- kadang = tanpa terlebih dahulu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ini dinamika dunia digital dengan beragam media sosial yang bisa diakses kapan saja, di mana dan dari mana saja.

Apakah ini salah? Jawabnya tidak! Apakah ini buruk? Jawabnya tidak juga. Sebab, seseorang berhak mengakses informasi jenis apa pun dan dari manapun sepanjang memiliki fasilitas dan kemampuan untuk mengaksesnya. Kesalahan, boleh jadi, ketika informasi yang diakses itu dikemas , dibuat atau ditambahi narasi sedemikian rupa, kemudian disebarkan untuk menyerang pribadi seseorang, tanpa dilengkapi data dan fakta. Padahal informasi awal yang didapat, tidak ada hubungannya dengan orang dimaksud. Begitu pun keburukan  baru “tercitra”, jika tidak bijak dalam merespons informasi.

Belakangan banyak kita menyaksikan beragam kritik bertebaran di dunia maya. Kadang kita sulit membedakan mana yang kritik, masukan dan candaan karena semua respons atas sebuah info datang berbarengan dari berbagai sudut pandang dalam waktu begitu singkat, cepat, hanya dalam perhitungan sekian detik.

Kritik memang tidak dilarang, bahkan menjadi kewajiban, jika bertujuan untuk saling mengingatkan bagi sesama. Karenanya kritikan hendaknya sebuah masukan untuk perbaikan, bukan cercaan menguak dan menebarkan keburukan.

Menghadapi situasi seperti sekarang ini, masing – masing pihak perlu bersikap bijak. Bijak ketika menyampaikan kritikan, bijak menerima kritikan, bijak pula dalam merepons kritikan.
Bijak berarti senantiasa menggunakan akal budinya, bukan hanya mengandalkan kepandaiannya.

Bijak atau bijaksana, menurut telaah para ahli, bukanlah suatu bentuk kepandaian. Tetapi, kepandaian seseorang turut membantu dalam bersikap bijaksana.
Orang yang cerdas sering dianggap bijaksana karena kemampuannya dalam mengambil keputusan yang tepat dengan kepala dingin dan sesuai dengan keadaaan.

Seseorang dapat dikatakan bijaksana, jika selalu bertindak berdasarkan akal sehat dan logika sehingga dapat bersikap tepat dalam menghadapi setiap keadaan dan peristiwa.

Ya..! Pandai membaca keadaan sehingga mengetahui waktu yang tepat kapan harus berbicara dan kapan harus diam, menjadi salah satu ciri orang bijak. Tidak tergiur menilai orang lain meskipun tidak sesuai dengan pendapatnya. Lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dalam mengambil keputusan.

Orang yang bijaksana lazimnya tidak egois, menghargai dan menjaga perasaan orang lain.
Banyak manfaat yang didapat bagi orang bijak, di antaranya; lingkungan akan lebih damai dan sejahtera karena terdapat keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. Mempercepat keadilan sosial sebagaimana cita – cita negeri ini didirikan.

Belum lagi bagi diri sendiri, orang bijak akan lebih dihargai, dihormati dan dipercaya.
Memang cukup sulit sekali menjadi orang bijak di tengah era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini. Di tengah derasnya arus informasi dari segala pelosok negeri kita dan penjuru dunia lewat dunia maya.

Perkembangan teknologi menjadi kebutuhan kita, anak bangsa agar tidak terlindas kemajuan. Tetapi sikap bijak menjadi kebutuhan sebagai bentuk kewaspadaan,   memfilter keadaan yang terus berkembang. Setidaknya memfilter diri kita sendiri.

Bersikap bijak merespons situasi terkini terhadap segala peristiwa yang sedang terjadi, patut menjadi acuan dan panduan.

Hendaknya tidak terbawa arus ikut mengktitisi hanya karena tak ingin disebut tidak ikut peduli, sementara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Jangan serta merta ikut – ikutan menghujat hanya karena ingin dianggap masih bersahabat dengan mereka yang sedang menghujat, padahal belum tahu apakah orang dimaksud harus dihujat.

Meski yang mengkritisi sahabat kita dan yang dikritisi lawan politik kita, sebaiknya perlu menahan diri sebelum tahu pasti apa yang terjadi.

Sekali pun sudah paham betul apa yang terjadi, hendaknya “Berlakulah baik kepada temanmu untuk menjaga mereka, dan berlaku baiklah kepada musuhmu untuk mengalahkan mereka.” Itulah salah satu sikap bijak Benjamin Franklin, bapak pendiri AS, yang patut kita tiru.

Bagi yang dikritisi, dihujat sekalipun, hendaknya tetap bijak menyikapi. Kritikan harus dimaknai sebagai cambuk kemajuan dan keberhasilan. Kalau pun kritikan sangat keras pedas, jangan disikapi berlebihan, tetapi anggaplah sebagai bumbu penyedap perhatian dan kecintaan.

Benar kiranya apa yang pernah sahabat saya, BJ Habibie katakan ”
Ketika seseorang menghina anda, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan anda, bahkan ketika anda tidak memikirkan mereka.”

Mari kita bijak menyikapi situasi, dengan memulai dari kita sendiri.(*).