INDRAMAYU – Jangankan sepeda motor atau mobil yang diparkir di luaran, traktor yang biasa digunakan para petani membajak sawahpun menjadi incaran maling. Padahal, traktor itu bukan sedang diparkir di tepi jalan atau depan rumah, tetapi diparkir di sawah yang berair.
Karena rawan pencurian, para petani atau operator traktor sehabis membajak sawah, buru-buru langsung membawa pulang traktor itu ke rumah. “Daripada kedahuluan pencuri mendingan mengeluarkan keringat ekstra membawa pulang traktor ke rumah,” kata Dakiah, 49 salah seorang operator traktor.
Dijumpai Pos Kota, Rabu (11/12/2019), Dakiah menerangkan, peristiwa kehilangan traktor atau mesin pembajak sawah pada Musim Tanam (MT) Rendeng tahun ini sudah seringkali terdengar. Sehingga sudah cukup banyak traktor yang sedang diparkir di sawah tiba-tiba raib.
Diakui, sebelum peristiwa pencurian traktor di sawah itu marak, para operator traktor seringkali memarkir atau menyimpan traktor sehabis dioperasikan di sawah. Hal itu dilakukan semata karena operator traktor enggan membawa pulang traktor ke rumah.
Pertimbangannya, besok pagi traktor itu masih diperlukan untuk melanjutkan pekerjaan, sehingga traktor sehabis digunakan membajak sawah disimpan di sawah. Dengan demikian operator traktor tidak harus mengeluarkan tenaga ekstra membawa pulang traktor ke rumah.
“Setelah banyak peristiwa traktor hilang dicuri saat berada di sawah, para petani maupun operator traktor tidak ada yang berani menyimpan atau memarkir traktornya di sawah. Umumnya setelah selesai membajak traktor itu langsung dibawa pulang ke rumah. Ini lebih aman ketimbang disimpan di sawah,” ujarnya.
Ia mengemukakan, harga 1 unit traktor merk Kubota yang baru itu relatif mahal. Mencapai belasan juta rupiah. Harga 1 unit traktor yang baru sama dengan harga sepeda motor baru.
Meskipun harga traktor itu mahal, akan tetap para petani tetap membutuhkannya untuk membajak sawah. Aktifitas membajak sawah menggunakan traktor dilakukan rutin dua kali setahun sebelum para petani menanam padi. (taryani/win)