JAKARTA – Rendahnya jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh pendidikan disebabkan oleh berbagai factor. Mulai dari kurangnya infrastruktur sekolah yang memadai, kurangnya tenaga pengajar khusus, dan juga stigma masyarakat terhadap ABK.
“Salah satu cara mendorong pendidikan yang lebih inklusi adalah mendorong semua guru harus belajar tentang dikdaktik metodik pembelajaran untuk ABK, ” ucap Dr. Bambang, dosen Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya, dalam General Lecture dan talk show yang diselenggarakan Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya, di kampus setempat, Sabtu (14/12).
Dalam diskusi itu, menghadirkan sejumlah pembicara, Prof. Irwanto, Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya dan Pegiat Isu Disabilitas; Penny Handayani, Psikolog dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Ratnawati Sutedjo, Pendiri Rumah Inspirasi yang aktif membina kaum disabilitas.
Bambang mengatakan konsekuensinya, semua Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) harus memberi mata kuliah Belajar Pembelajaran disesuaikan dengan hambatan tiap peserta didik/individu disabilitas.
Ia menambahkan masih terbatasnya pendidikan khusus bagi ABK secara langsung berimbas pada kesiapan sumber daya manusia penyandang disabilitas yang siap bekerja dan dipekerjakan oleh dunia profesional meski pemerintah telah meneken U No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terus mendorong agar pihak swasta dan BUMN membuka pintu seluas-luasnya bagi penyandang disabilitas.
Ratnawati Sutejo, wirausahawan Precious One yang mempekerjakan penyandang disabilitas menuturkan para penyandang disabilitas sangat membutuhkan kesempatan untuk berkarya dan kesempatan untuk membuktikan hasil kerjanya.
“Karena di balik keterbatasan yang dimiliki oleh teman-teman disabilitas, kami meyakini ada kemampuan yang bisa diolah sebagai kelebihan mereka.”
Untuk itu dia berharap jangan sampai masyarakat meremehkan disabilitas karena keterbatasan tersebut, sebaliknya disabilitas pun harus bangkit dengan menunjukan kelebihan yang dimiliki lewat karya.
Hal ini yang dilakukan melalui Precius One, sebuah tempat usaha kerajinan tangan yang mempekerjakan penyandang disabilitas di kawasan Meruya Utara, Jakarta Barat. (johara/tri)