Wednesday, 19 September 2018

Ketua LPI: Indonesia Tidak untuk 5 Tahunan, Tapi untuk Selamanya

Rabu, 13 Juni 2018 — 20:18 WIB
Ketua LPI BOni Hargens. (anton)

Ketua LPI BOni Hargens. (anton)

JAKARTA  – Ketua Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menyatakan Lebaran tahun 1429 Hijriah adalah momentum religius yang mahal nilainya. Sebab, bertepatan dengan tahun politik ketika umat dicoba dibelah oleh kepentingan dan permainan politik.

Nnamun, kita tetap yakin Islam sebagai inheren dari keindonesian dan kita akan tetap menjadi agama yang menyatukan dan mendamaikan dalam satu kesatuan yang bernama Indonesia.

“Pesan moral dalam bulan suci Ramadhan tidak hanya saling memaafkan diantara kita tetapi bagaimana kita dan seluruh kekuatan nasional mau memaafkan kelompok politik yang mempermaikan SARA sebagai modal dan menjadikan kekacauan untuk meraih kekuasaan karena mereka pun bagian dari kita sebagai keluarga besar NKRI,” tambah Ketua LPI Boni Hargens saat memberikan renungan menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran 1439 H, Rabu (13/6).

Untuk mereka, kita memberikan maaf yang tulus agar ada pertobatan dan rekonsiliasi nasional menuju Pilpres April 2019 mendatang. Substansinya jelas, INDONESIA tidak dibangun untuk periode pemilu 5 tahun, tetapi untuk selama-lamanya. Maka, baiklah komitmen jiwa dan raga kita arahkan dan kerahkan untuk keberlangsungan Indonesia untuk selama-lamanya.

Menurut dia, terhitung sejak 2016 lalu dinamikan politik di Tanah Air ditandai dengan ebrbagai goncangan yang cukup melelahkan dan meresahkan.

Politik identitas menjadi arus utama ketika oposisi politik kehilangan akal sehat untuk mengevaluasi dan mdelegitimasi pemerintahan Presiden Joko Widodo. “Suku, agama, ras dan antar golongan (SARA dijadikan komoditas untuk meriah dukunagn politik. Alhasil masyarakat terbelah,” tuturnya.

Dikotomi yang kejam atas dasar SARA tidak hanya mengganggu jalannya pemerintahan, tetapi juga mengancam masa depan keindonesiaan kita yang sudah dibangun para Pendiri Republik dengan darah dan keringat.

Pancasila, sebagai fondasi yang merekatkan keberagaman dan falsafah yang menyatukan masa lalu dan masa depan kita sebagai negara-bangsa, diganggu oleh kehadiran dan serangan ideologi dan kelompok radikal yang ingin menerapkan NKRI Syariah.

Masyarakat Modal Terbesar

“Kita lelah dan terluka dengan serangan-serangan teroris dan kemarahan kelompok radikal yang berteriak di jalan dan memadati dunia maya dengan hasutan kebencian dan fitnah,” tambahnya.

Nnamun, lanjut dia,  Alhamdulilah, sampai hari ini, dan sampai kapanpun, bangsa ini masih dan akan tetap kuat. Masyarakat kita adalah kekuatan yang tak terkalahkan oleh permainan kotor para pecundang politik.

Masyarakat kita adalah modal terbesar yang tak bisa digadai oleh dan untuk kepentingan kekuasaan yang temporer. Kita perlu mengapresiasi setinggi-tingginya kerja keras Badan Intelijen Negara (BIN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang telah dan selalu komit menjaga keamanan masyarakat, bangsa dan negara dalam segala keadaan.

Bahkan, dalam momen menjelang Lebaran ini, ketika kita sibuk mengatur jadwal berlibur, mereka justru sibuk bekerja keras untuk menjaga masyarakat dan bangsa ini. Isu lain, yang heboh dari kemarin, pernyataan tokoh senior Amien Rais bahwa “Tuhan bakal malu bila doa jutaan umat yang meminta presiden diganti tahun 2019”.

Pembelahan masyarakat politik dengan memakai agama terus dilakukan. Tetapi kita percaya, bangsa yang dibangun dengan semangat dan jiwa Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan cinta damai, tidak akan jatuh ke tangan para pecundang yang maniak kekuasaan.

Tuhan tak bisa ditawar, tak mungkin bisa diajak berkompromi, apalagi dilibatkan dalam konsolidasi politik yang kotor. Tuhan tetaplah Tuhan pada kemahakuasaannya yang tak akan pernah berkurang oleh kekuatan apapun.

Dan kita percaya, Tuhan yang sama hanya memberkati pemerintah yang peduli dengan rakyat, yang bekerja siang malam untuk kemaslahatan umat, ujarnya yang mengucapkan selamat menyosong hari Kemenangan di Hari Raya Idul Fitri 1439 H untuk seluruh masyarakat Indonesia khususnya umat Islam. (anton/win)