JAKARTA (Pos Kota) – Kasus pembunuhan siswa SMA Taruna Nusantara Kresna Wahyu Rachmadi telah menggegerkan seantero negeri. Kepolisian menetapkan resmi menetapkan AMR, siswa di sekolah yang sama sebagai tersangka.
Berdasar keterangan dari kepolisian menyatakan, pada Jum’at (31/2017), diketahui pukul 04.00 WIB, di barak Graha 17 kamar 2B komplek SMA TN Mertoyudan Magelang, telah terjadi tindak pidana pembunuhan. Korban ditemukan pertama kali oleh pengasuh yang hendak membangunkan siswa untuk melaksanakan solat subuh.
Kronologinya, kejadian pada Jumat, sekira pukul 04.00 WIB, saksi Riyanto (among graha 17) membangunkan siswa graha 17 untuk melaksanakan sholat subuh.
(Baca: Tersangka Pembunuh Mengelap Pisau dan Rendam Kaos Berdarah)
Kemudian siswa bangun dan tidak berapa lama kemudian diulangi membangunkan dengan melihat tiap lorong kamar. Sewaktu melihat kamar 2b, salah satu siswa tidur tertutup selimut tidak beranjak bangun.
Kemudian selimut dibuka dan ternyata siswa, ternyata siswa bernama Kresna Wahyu alias Eno bersimbah darah yang dikira muntah darah. Selanjutnya, saksi melaporkan kepada piket jaga.
Saksi Kodiyat selanjutnya mendatangi lokasi kamar 2b. Sakdi Kodiyat mengecek denyut nadi siswa En, ternyata sudah tidak berdenyut. Dia kemudian melaporkan kepada WAKA SEK SISMA, Lalu pihak sekolah melaporkan ke Polsek Mertoyudan.
Korban ditemukan sudah bersimbah darah dengan posisi korban tidur membujur ke arah selatan dengan kepala mengahadap ke timur. Tangan melintang di dada, dengan kaki kanan menekuk dan sebagian kaki tertutup selimut.
Pihak kepolisian pun mengadakan penyelidikan. Kresna tewas karena luka tusukan tepat di leher sedalam 2 cm, lalu luka sayatan pada leher sekira 10 cm.
Dalam penyelidikan polisi, ditemukan beberapa barang bukti, berupa pisau di kamar mandi barak Graha 17, dan ditemukan bungkus pisau di tas hitam yang ada atas almari milik AMR.
Bungkus pisau tersebut identik atau sama dengan pisau yg ditemukan di kamar mandi barak Graha 17. Ditemukan juga baju siswa lain yang terkena bercak darah di depan gudang barak Graha 17.
Polisi pun mengadakan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, baik siswa maupun pamong dan lainya, termasuk ssatu dari toko swalayan.
Dalam serangkaian penyelidikan, ada enam siswa yang keluar dari komplek SMA Taruna Nusantara, pada Kamis (30/3/2017), termasuk AMR. Keenamnya lalu diperiksa secara intensif. Dari keterangan mereka diperoleh,, salah satu siswa mengatakan, AMR mondar-mandir dengan alasan ingin menyeterika baju OSIS.
Satu siswa laiinya yang diperiksa menyatakan, AMR membeli dua pisau, ke pasar swalayan. Dari AMR sendiri saat diperiksa, baju dan celana abu-abu belum ditemukan. Ada juga yang menceritakan, AMR ingin tidur bersama korban.
Dalam penyeildikan lainnya, polisi mendapatkan baju dan kaos kena darah, juga pisau. Lalu, buku notes dengan sampul hijau yg ada bercak darah di sampulnya.
Menurut Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono, hasil pemeriksaan menyatakan, AMR sakit hati, karena masalah HP dan dipergoki mencuri uang yang kemudian dilaporkan kepada pamong oleh korban.
Ia sakit hati, juga karena HP miliknyayang dipinjam korban ketahuan oleh Pamong/Pengasuh dan kemudian disita (karena siswa kelas 1 tidak boleh membawa HP ). Pelaku sudah meminta kepada korban untuk mengurus HP tersebut, tetapi korban tidak mau. Dari sakit hati itu, lalu timbul niat jahatnya.
Irjen Condro menyebut, pelaku akhirnya mengakui dia yang melakukan pembunuhan itu. AMR merasa ada penyesalan. Akhirnya ia ditetapkan sebagai tersangka. (suatmadji/win)