JAKARTA – Rencana Perluasan kebijakan Ganjil Genap (Gage) bagi kendaraan bermotor di sejumlah ruas jalan Ibu Kota masih dianalisis sebelum dilakukan sosialisasi dan ditetapkan permanen.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengatakan bahwa Gubenur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan meminta rute perluasan Gage diumumkan pekan ini. Namun, karena masih dilakukan pengkajian sehingga belum bisa diumumkan.
“Memang arahan Pak Gubernur ini harus segera diumumkan, tapi ternyata exercise-nya tidak mudah, perlu kami detailkan secara paripurna sebelum kami serahkan ke Pak Gubernur,” kata Syafrin kepada wartawan, Selasa (6/8/2019).
Kebijakan perluasan Gage dilakukan sebagai salah satu langkah Anies untuk mengatasi masalah polusi udara di Jakarta yang masuk kategori terburuk.
Meski belum rampung 100 persen mengenai rute yang akan diterapkan kebijakan Gage, namun Syafrin membeberkan kriteria rute jalan yang kemungkinan akan terkena dampak Gage.
Menurutnya, perluasan ganjil genap ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas.
“Pertama, visi rasionya sudah jenuh, yakni di atas 0,7. Visi rasio yang dimaksud adalah perbandingan antara kapasitas dan volume lalu lintas,” beber Syafrin.
Visi rasio sendiri memiliki skala antara 0 sampai 1. Sementara skala 1 berarti jenuh alias jalanan tersebut mengalami kepadatan kendaraan. Selain itu, lanjut Syafrin, jalanan yang akan terkena perluasan Gage adalah ruas jalan yang mengalami perlambatan laju kendaraan pada jam sibuk.
“Kedua, ganjil-genap akan diterapkan pada ruas jalan pada saat waktu sibuk, kecepatan rata-rata kendaraan di bawah 30 km per jam,” ungkap dia.
Sementara jalanan Ibu Kota nyaris semuanya mengalami perlambatan laju kendaraan saat jam sibuk. Sehingga ada langkah lain untuk menentukan kriteria jalan yang bisa diterapkan perluasan Gage yakni jalanan yang sudah dilalui oleh angkutan umum.
“Ketiga, di jaringan jalan tersebut sudah ada angkutan umum yang melayani masyarakat, contohnya sudah ada MRT, LRT, TransJakarta, dan Jak Lingko,” tandas Syafrin. (yendhi/tri)