Thursday, 17 October 2019

Subsidi Silang

Kamis, 8 Agustus 2019 — 5:30 WIB

Oleh Harmoko

SALING berbagi adalah ajakan kebaikan agar di antara kita saling tolong menolong.
Menyantuni adalah ajaran agama, agar kita bersikap peduli kepada sesama. Terutama kepada mereka yang membutuhkan bantuan.

Momen “Idul Kurban” menjadi satu ajakan massal agar kita peduli kepada orang lain.
Sering dikatakan dari aspek sosial,  kurban merupakan ibadah sunnah dari ranah sedekah.

Kurban tidak semata ibadah vertikal, tetapi juga horizonal. Manusia yang berkurban sama saja dengan menyejahterakan sesama. Bahkan dengan berkurban, kita juga dapat menebar persaudaraan.

Yang memiliki kelebihan harta agar memberikan sebagian miliknya kepada mereka yang kekurangan. Yang mampu agar membantu mereka yang belum mampu.

Makna lain, kita diingatkan agar tak selalu berorientasi kepada sifat duniawi. Termasuk mengajarkan kepada kita agar ikhlas memberikan apa yang paling disuka, jika ternyata orang lain lebih membutuhkan.

Dalam program pembangunan nasional sering kita kenal istilah “subsidi silang”. Di mana perusahaan besar membantu usaha kecil, usaha rumahan (home industry). Bantuan bisa beragam cara, tak melulu soal modal.

Bisa juga melalui teknologi, pelatihan dan akses pasar. Intinya agar yang kuat dengan kemampuan yang dipunyai bisa secara bertahap membantu yang lemah.

Tentu tidak dengan berharap akan berdiri sejajar sama kuat.Tetapi yang perlu disegerakan adalah mereka bisa survive, kemudian  berkembang menjadi usaha mandiri.

Jika masing – masing usaha rakyat sudah mandiri, tentu sebagai modal dasar menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia sebagaimana cita- cita negeri ini didirikan.

Kita meyakini pola subsidi silang sudah banyak dilakukan, tak hanya institusi/lembaga pemerintah dan badan usaha negara.Juga kalangan swasta.

Tak terhitung perusahaan yang telah melakukan subsidi silang melalui beragam pola. Di antaranya kita kenal program Corporate Social Responsibility (CSR).

Ini bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang bertujuan mengintegrasikan pertimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan bersama ke dalam operasi bisnis perusahaan. Di dalamnya ada pertimbangan moral dan hak asasi manusia.

Manifestasi CSR ada yang bergerak di bidang ekonomi seperti  membantu usaha kecil – usaha rakyat. Di bidang pendidikan seperti memberikan bea siswa anak berprestasi atau kurang mampu.

Ada juga bantuan bersifat pelatihan masyarakat desa menggali potensi desanya. Dan masih banyak lagi jenis subsidi silang berupa kepedulian  yang intinya untuk saling berbagi kemampuan.

Mari kita rapatkan barisan, tingkatkan solidaritas melalui saling berbagi. Dengan berbagi melatih diri sendiri untuk bersikap dermawan, meningkatkan rasa empati. Melatih membuang sifat kikir, serakah, dan egois.

Kita patut bersyukur jika masih bisa diberi kesempatan untuk berbagi dengan orang lain seperti banyak diajarkan ulama dan tokoh agama.

Nouman Ali Khan, ustadz dari Amerika Serikat dan CEO Bayyinah Institute, misalnya mengatakan “Bila Anda berada dalam posisi untuk membantu seseorang, berbahagialah! karena Allah sedang menjawab doa orang itu melalui Anda.”

Dalam filosofi Jawa dikenal istilah “Ojo Seneng Gawe Susahe Liyan, Opo Alane Gawe Seneng Liyan” artinya mengajak kepada kita agar jangan suka membuat orang lain menjadi susah dan tiada buruknya membuat bahagia orang lain.

Meski begitu kegiatan saling berbagi harus diawali dengan niat suci, tulus dan ikhlas. Bukan membantu karena ada tujuan tertentu.

Agama mengajarkan agar tangan kanan kita selalu di atas, tetapi tangan kiri sebaiknya tidak mengetahui.

“Sak Apik-apike Wong Yen Aweh Pitulung Kanthi Cara Dedhemitan” –
sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi pertolongan secara sembunyi-sembunyi.

Itulah sejatinya makna berbagi sebagai perwujudan subsidi silang yang hendaknya kita kembangkan. (*).