Situs toto adalah langkah pertama menuju petualangan yang tak terlupakan. Contohnya di pasaran togel Macau, para penjudi memasuki dunia yang penuh dengan kegembiraan dan kejutan. Dengan tekad yang kuat, mereka siap memutar otak untuk merumuskan prediksi berdasarkan angka keluaran data macau 4d beberapa bulan sebelumnya.

Pernah dengar situs judi poker online terpercaya dari IDNPLAY? Jika ya maka tidak salah lagi bahwa idnpoker adalah jawabannya. Situs ini juga menyediakan download APK terbaru dan link login alternatif untuk pemain di wilayah Indonesia dan benua Asia.

Wednesday, 13 November 2019

13 Pekerja Migran di Singapura Raih Gelar Sarjana

Rabu, 13 November 2019 — 9:50 WIB
13 PMI diwisuda di niversitasTerbuka.(ist)

13 PMI diwisuda di niversitasTerbuka.(ist)

TANGSEL – Sebanyak 13 pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Singapura berhasil meraih gelar sarjana dari Universitas Terbuka (UT).
Ke-13 pekerja migran tersebut diwisuda dengan memanfaatkan peluang belajar sembari bekerja di luar negeri.
Atase Ketenagakerjaan di Singapura, Devriel Sogia, menjelaskan, rata-rata  PMI di Singapura mendapat jatah libur 1 hari dalam seminggu. Para pekerja migran yang diwisuda  UT  mampu memaksimalkan peluang libur mereka dengan belajar di UT.
“Kami mengingatkan kepada semua PMI di Singapura, untuk tetap meningkatkan keterampilan dan pendidikan melalui berbagai akses yang ada di sana,” kata Devriel usai menghadiri wisuda Pekerja Migran Indonesia di Gedung UT Convention Center, Tangerang Selatan pada Selasa (12/11/2019).
Menurut Davriel, peluang untuk mengenyam pendidikan selama bekerja di Singapura didasari 2 hal. Pertama, kemauan keras para PMI untuk meningkatkan keterampilan dan pendidikan. Kedua, kesempatan yang diberikan oleh majikan.
nisak
Nisak, PMI yang bekerja di Singapura usai di wisuda di Universitas Terbuka, bersama majikannya.(ist)
“Jadi dua hal itu yang saling terkait. Yaitu keinginan, upaya dia ingin maju, dan kesempatan dari majikan,” terang Davriel.
Ia pun mencontohkan dengan salah satu PMI yang diwisuda hari ini, yaitu Asmaunisak. Perempuan yang biasa disapa Nisak ini disebutnya tetap mengikuti pendidikan di UT selama bekerja. Meskipun, ia harus menyelesaikan studinya hingga 6 tahun.
“Saya menghimbau kepada teman-teman PMI semua bahwa bekerja ke Singapura ini hanya sebagai pijakan. Untuk maju kedepan, untuk membangun kehidupan yang lebih baik, salah satu upayanya tadi, belajar sambil bekerja,” ujarnya.
Davriel menambahkan, selain pendidikan formal seperti yang diselenggarakan UT, Pemerintah Indonesia juga menyediakan sejumlah akses peningkatan keterampilan bagi PMI. Salah satunya adalah Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kerja (P3K).
Davriel melanjutkan, P3K adalah kursus selama 6 bulan yang terdiri dari 8 kejuruan. Yaitu Barista, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Komputer, Tata Kecantikan, Menjahit, dan Baking. Saat ini, P3K di Singapura diikuti sekitar 600 PMI.
“Dari 8 kejuruan ini, kita akan terus meningkatkan kualitas pelatihan. Kita juga akan bekerja sama dengan BNSP guna mendapatkan sertifikasi yang diakui oleh Indonesia,” ujarnya.
Salah satu PMI  yaitu Nisak (36 tahun), sangat bersyukur akhirnya dapat diwisuda. Pendidikan yang dienyam selama ini berasal dari keinginanya untuk meningkatkan keterampilan, serta mendapat dukungan penuh dari majikannya.
“Semoga bisa menjadi contoh bagi teman-teman pekerja migran, bahwa pekerja migran juga bisa sekolah, bisa kuliah, jadi orang-orang yang bekerja di luar negeri jangan menganggap diri kita itu rendah, anggap diri kita ini pekerja, bukan pembantu,” terang perempuan asal Kendal, Jawa Tengah tersebut.
Ia pun berterima kasih kepada majikannya, Mrs. Lisa Tan, yang turut mengatarkannya untuk wisuda di Indonesia. Tak hanya itu, majikannya juga telah membantu biaya pendidikan, biaya wisuda, hingga memfasilitasi keluarga Nisak untuk datang pada acara wisuda.
“Dia dan keluarganya support saya. Dia membayarkan kuliah saya, tiket pesawat, nginep di hotel juga dia yang bayar, tidak memotong gaji,” ujar Nisak.
Nisak sendiri mengambil program pendidikan Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan. Selain Nisak, 12 PMI yang diwisuda adalah Ida Supartini dari program studi Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan, Jamilah (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Maria Kareri Hara (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Eti Maini (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Reni Haryati (S1 Akuntansi), Tuti Sulistyaningsih (S1 Manajemen), Mahdalena(Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Dorince Lassa (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Saryanti (S1 Ilmu Pemerintahan), Juwita Seo (Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan), Umi Nadhiroh (S1 Manajemen), dan Wiratna(Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan).
Sementara itu, Direktur UT Batam, Eliaki Gulo, menambahkan, program pendidikan bagi pekerja migran ini merupakan upaya mendekatkan akses peningkatan keterampilan dan pendidikan bagi WNI di luar negeri. Selain di Singapura, program ini juga ada di Kuala Lumpur dan Johor (Malaysia).
Saat ini, mahasiswa UT di Singapura sebanyak 230 orang, Kuala Lumpur sebanyak 500 orang, dan Johor 280 orang.
“Ini adalah upaya bersama, bukan hanya UT namun juga pemerintah, untuk memberikan akses pendidikan kepada warga kita yang ada di luar sana,” paparnya.(*/tri)