AKTRIS cantik dan model papan atas Dian Sastrowardoyo tak lagi menyembunyikan putra asulungnya Syailendra Naryama Sastraguna Sutowo, yang berada di spektrum autisme. Aktris Ada Apa dengan Cinta dan Pasir Berbisik ini pun aktif berbagi pengalaman tentang terapi untuk anak autisme.
Menurut Dian Sastro, bersikap terbuka, menurut Dian Sastrowardoyo, penting demi mendapat pertolongan yang tepat untuk si buah hati.
Isteri pengusaha Indra Sutowo ini juga berbagi tips kepada para ibu yang dikaruniai anak dengan autisme. “Pertama, menerima dulu fakta tersebut. Jangan manyangkal. Saat menerima fakta biasanya kita jauh lebih terbuka terhadap informasi baru yang akan masuk. Kita bisa belajar jauh lebih banyak setelah mau terbuka dan menerima,” ujar bintang iklan Lux ini
Sejak mau terbuka, banyak yang merespons Dian Sastrowardoyo di medsos. Tak sedikit yang berkeluh kesah punya nasib sama. Bahkan, ada yang baru mengenal autisme setelah menyimak pengalaman Dian Sastrowardoyo.
“Ada yang bilang, ‘Saya baru tahu kalau anak saya bukan kesurupan atau anak saya bukan kena santet. Tapi anak saya mungkin seperti anaknya Mbak Dian, ya? Punya kebutuhan khusus. Ya ampun saya, tuh sudah menjadi momok di desa atau mungkin di keluarga saya yang mungkin pengetahuannya belum luas.’ Masih asing dan awam terhadap hal-hal seperti ini,” ia menukas.
Berkaca pada pengalaman ini, menggali informasi dan pengetahuan seputar autisme menjadi saran Dian Sastrowardoyo berikutnya.
Masyarakat perlu diingatkan bahwa anak berkebutuhan khusus itu benar ada di masyarakat. Mereka memerlukan penanganan yang spesifik. Dengan bersikap terbuka, Dian Sastrowardoyo ingin membantu orang tua lain yang mengalami masalah seperti dirinya dulu.
“Ternyata benar, 80 persen orang yang menghubungi saya lewat medsos, followers yang mungkin tidak saya kenal dekat. Bahkan sahabat saya sendiri ternyata punya anak berkebutuhan khusus. Mereka menanyakan, terapinya di mana,” ujar lawan main Christine Hakim di film Kartini.
Di pengujung obrolan, Dian Sastrowardoyo mengingatkan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. “Kalian nggak sendirian, enggak usah malu, bukan sesuatu yang harus disedihkan, atau jadi bahan untuk malu,” Dian menyemangati.
“Mungkin saya bisa bilang anak dengan autisme itu ada di satu dari tiga keluarga. Saya juga tidak tahu kenapa sekarang kayaknya lebih banyak daripada zaman bapak ibu kita dulu. Saya percaya anak-anak dengan autisme bisa menjadi manusia swadaya,” pungkasnya. (dms)