Tuesday, 10 December 2019

Selama Kemarau, Anin Benar-Benar Rasakan Manisnya Jualan Sari Tebu

Senin, 2 Desember 2019 — 8:08 WIB
Penjual es tebu di Indramayu sedang melayani pembeli. (taryani)

Penjual es tebu di Indramayu sedang melayani pembeli. (taryani)

INDRAMAYU – Selama lebih dari 2 bulan musim kemarau, penjual es sari tebu yang banyak dijajakan di tepi jalan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menikmati manisnya berjualan.

Amin, pedagang 32 tahun, mengaku dalam sehari bisa menjual tak kurang dari 75 kg tebu batangan. Tentu saja tebu batangan itu sebelum dijual ke konsumen terlebih dahulu dimasukkan ke mesin penggilingan guna menghasilkan air atau sari tebu.

“Pada hari normal, di luar musim kemarau, biasanya menghabiskan tebu batangan 25 Kg. Sejak memasuki musim kemarau dalam dua bulan terakhir ini, omzet penjualan tebu batangan naik menjadi 75 Kg. Bahkan jika kebetulan di dekat sini ada orang hajatan, omzet penjualan tebu batangan meningkat mencapai 1 kwintal atau 100 Kg,” ungkapnya.

Amin bersyukur karena selama memasuki musim kemarau omzet penjualan tebu selalu di atas normal. “Alhamdulillah. Allah selalu memberi kesehatan, sehingga selama berjualan pada musim kemarau bisa dapat rezeki yang cukup lumayan. Keuntungannya di atas Rp100 ribu sehari,” ujarnya.

Menurutnya, satu gelas es sari tebu dijual ke konsumen seharga Rp3 ribu. Sedangkan tebu batangan dibeli dari agen seharga Rp4 ribu per Kg. Tebu-tebu itu didatangkan agend ari Blitar, Jawa Timur.

Jenis tebunya berbeda dengan yang ada di Indramayu. “Tebu dari Blitar itu warnanya kehijau-hijauan. Banyak mengandung air. Kalau tebu lokal Indramayu ada rasa asin-asinnya. Mungkin karena kadar garam dalam kandungan tanah cukup tinggi,” katanya. (taryani/yp)