Monday, 09 December 2019

Empat Tahun Jadi “Bang Toyib” Ternyata Punya WIL Tetangga

Rabu, 4 Desember 2019 — 7:01 WIB
NID-04-12

SEBAGAI “Bang Toyib”, Madrais, 40, cerdik dan licik luar biasa. Dikira istri dia menghilang entah ke mana, nggak tahunya ngumpet di rumah Ny. Patonah, 35, yang berjarak 10 meter. Tapi selama 3 tahun ndekemi janda tetangga, berhasil tambah 2 anak. Skandal ini terbongkar oleh emak si janda sendiri.

Orang punya PIL maupun WIL biasanya jauh dari TKP (Tempat Kejadian Perselingkuhan). Banyak juga sih dengan tetangga sendiri, tapi biasanya cepat terbongkar. Jika sampat 4 tahun baru terendus, dan ternyata mainnya hanya di situ-situ juga, mungkin baru terjadi di Pulau Raas, Sumenep (Madura).

Pulau Raas lumayan terpencil, kebanyakan penghuninya jadi nelayan. Ada juga ASN seperti janda Patonah. Karena penduduk sibuk mencari kehidupan masing-masing, akhirnya jadi acuh tak acuh ketika terjadi keganjilan di lingkungannya. Misalnya, ketika Patonah tiba-tiba hamil dan bersalin, warga tak mempermasalahkan juga. Maaf kata, jika pinjam istilah orang Betawi, sepertinya warga sudah lu lu gua gua.

Adalah Karonah, 38, warga lqain di pulau itu. Semula dia hidup bahagia bersama suaminya, Madrais. Tapi sekitar tahun 2015, tiba-tiba suaminya menghilang. Karena profesinya nelayan, Karonah menduga suaminya tewas disapu ombak. Tapi jenazahnya kok tak pernah ditemukan?

“Mungkin ketemu ikan hiu yang 40 hari berpuasa, sehingga langsung ditelan  habis,” begitu kata batin Karonah menghibur diri.

Demikianlah sampai tahun ke-4, lengkap sudah Madrais jadi Bang Toyib. Karonah pasrah saja, mungkin harus begini suratan nasib. Tapi benarkah Madrais ditelan ombak, atau jadi Bang Toyib karena terpikat wanita lain? Alternatif kedua mendekati kenyataan, tapi kejadiannya sungguh di luar text book dan akal sehat.

Madrais memang kesengsem dengan janda tetangga sendiri, ya si Patonah itu. Kebetulan mendapat lampu hijau, sehingga Madrais berani berbuat dengan segala resikonya. Agar aman dari segala  tuduhan, dia pura-pura menghilangkan diri saja. Padahal aslinya setiap hari ada di rumah janda Patonah yang hanya berjarak 10 meter dari rumahnya.

Ketika tetangga pada ribut Madrais hilang dengan kemungkinan disapu ombak, dia di kamar Patonah tenang-tenang saja. Yang penting tiap malam bisa kelonan. Ketika mendengar anak kandung menangis menanyakan kepergian bapak, dia juga mendengar. Tapi tangisan anak, kalah dengan suara Patonah.

Kok bisa ya Madrasis menjalani hidup seperti itu? Jadi “tahanan politik” urusan selangkangan, jadi tak bisa bebas ke mana-mana. Dia benar-benar di rumah Patonah hanya dijadikan pejantan. Tak boleh keluar rumah, tiap hari diminta minum susu, telor mentah dan makan kacang tanah, agar bisa selalu prima di ranjang, rosa-rosa macam Mbah Marijan.

Empat tahun berselang, dua anak Patonah telah lahir dari kerjasama nirlaba bersama Madrais. Tapi para tetangga tak ambil peduli, karena sibuk dengan urusan pengisi perut. Sampai kemudian ibu kandung Patonah memberitahukan pada Karonah, bahwa sebetulnya selama ini Madrais ngumpet di rumah Patonah.

Begitu skandal ini terbongkar, gegerlah warga desa itu. Kebanyakan mencaci Madrais, bahkan ada yang bilang tapor kelap (samber geledek) pada suami biadab itu. Sejauh ini polisi belum turun tangan, karena Pak Kades berhasil menyelesaikannya.

Madrais memang benar-benar tapor kelap, tak iye…. (gunarso ts)