JAKARTA – Musibah robohnya menara pemancar milik Radio Republik Indonesia (RRI) di Jalan Antene VII, Radio Dalam, Kebayoran Baru, pada Minggu (22/12/2019) mendapat perhatian Pemkota Jaksel Walikota Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali meninjau langsung ke lokasi, Senin (23/122019).
Kepada wartawan Marullah menjelaskan robohnya menara menara cukup fatal lantaran menimpa rumah warga dan sebuah masjid merupakan musihan. Dirinya juga belum bisa memastikan apakah menara tersebut roboh karena kelalaian pihak RRI dalam melakukan perawatan atau tidak.
“Nanti kita lihat lagi apakah ada perawatan yang intens terkait ini semua. Tapi saya menilai robohnya menara RRI sebagai musibah. Siapa juga yang mau, RRI juga tidak mau, apalagi warga sini,” ujar Marullah didampingi Camat Kebayoran Baru, Tomy Fudihartono.
Semententara itu, Sriyati, 54 salah seorang mengatakan, saat musibah itu terjadi dirinya dan warga berada di rumahnya yang tak jauh dari lokasi. Menurutnya, sebelum antenna itu roboh ada suara petir ditambah angin kencang.
“Setelah itu ada suara jatuh menara dibareng sama petir, tak lama berselang terdengar, ada warga yang teriak menara roboh,” jelas Sriyati.
Sedangkan Ghofur,43, pemilik bajaj yang ringsek akibat tertimpa menara mengaku, saat itu dirinya sedang menjalankan ibadah shalat ashar di Masjid Al-Amin yang turut terdampak reruntuhan.
“Saat bajaj saya tertimpa menara itu saya ada di dalam masjid sedang shalat ashar. Tiba-tiba ada angin kencang sama petir, pas (tower) kena bangunan (masjid) saya baru keluar itu baru lihat kalau sudah roboh menaranya,” kata Ghofur.
Menurutnya, saat menara roboh ini dirinya dan jemaah lainnya sedang sholat dan tidak tahu adanya menara robi. Para jemaat itu baru tersadar menara itu ambruk setelah menimpa badan Masjid Al-Amin.
“Saat itu bajaj saya, tepat terparkir di depan halaman masjid, setelah saya antar penumpang di sekitar daerah sini. Selama ini dirinya memang sering mampir ke masjid ini. Tapi baru pertama kalinya ia memarkirkan kendaraanya itu di depan masjid tesebut,”imbuhnya.
Ghufron juga mengaku kalai pihak RRI menjamin ganti rugi dari musibah robohnya menara pemancara yang menimpa bajaj miliknya.
Dia juga mengaku lega setelah ada, pernyataan ganti rugi dijanjikan langsung oleh Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), M Rohanudin. “Kata Pak Dirut kemarin akan diselesaikan. Akan dapat ganti berupa santunan dana,” kata Ghofur.
Pantauan di lokasi, terlihat beberapa teknisi dari RRI memotong besi maupun antena pemancar pada badan menara yang roboh itu. Pemotongan hanya dievakuasikan bagi antena pemancar yang masih dapat difungsikan kembali.
“Ini evakuasi cari pemancar kalau bisa dimanfaatkan lagi, dan mengamankanlah.Ya, antena-antena yang masih bisa digunakan,” kata Marji salah seorang Teknisi RRI. (wandi/win)