Friday, 18 October 2019

“Apa yang Kau Berikan”

Kamis, 5 September 2019 — 6:06 WIB

Oleh Harmoko

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa
yang kamu berikan kepada negaramu”

Ungkapan ini sangat populer. Bahkan sering diungkap pejabat untuk memberi
motivasi kepada warganya, utamanya generasi mudanya.

Melihat historinya, ungkapan ini disampaikan oleh John F.Kennedy ketika
diambil sumpahnya menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pada tahun 1961.
Pada pidato pelantikannya, Presiden AS ke-35 ini berseru:  “*Ask not what
your country can do for you. Ask what you can do for your country !”.*

Meski ungkapan itu disampaikan 58 tahun lalu, tetapi masih tetap aktual.
Saat itu, Kennedy memotivasi seluruh rakyatnya untuk memberikan   sesuatu
kepada bangsanya. Sesuatu yang dimaksud, tentu bukan harta benda, tetapi
kemampuan ilmu dan pengetahuan, keterampilan,  keunggulannya,
kreativitasnya, inovasinya, hasil karyanya untuk kemajuan negaranya.

Kita sepakat memberikan sesuatu kepada negara sejatinya bukanlah
permintaan, tetapi kewajiban rakyat untuk negaranya. Karena di dalam haknya
sebagai warga negara, terdapat pula kewajiban. Perlu ada keseimbangan
antara hak dan kewajiban.

Jika dicermati, satu hal yang hendak dicapai adalah mengubah pola pikir
dari meminta menjadi memberi. Jika sikap semacam ini dilakukan bersama –
sama oleh seluruh rakyat akan menjadi kekuatan besar membangun bangsa.
Ini sekaligus untuk memunculkan kesadaran bahwa memulai dengan “memberi”
jauh akan lebih baik hasilnya ketimbang memulainya dengan berharap jatah
atas haknya dari negara.

Untuk era kekinian sikap hidup yang demikian berperan sebagai pembangkit
semangat generasi muda agar terus berkarya, setidaknya bagi dirinya dan
komunitasnya.

Di zaman serba digital, pemuda harapan bangsa harus penuh dengan karya
nyata. Pemuda zaman “now” harus mampu merespons perkembangan, termasuk
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka yang tak memiliki
keunggulan, akan tergeser dan akhirnya tersingkir karena tak mampu bersaing
dengan pemuda lain di zamannya, era generasi milenial seperti sekarang ini.

Dengan kemahiran menguasai teknologi dan beragam sarana yang mudah
tersedia, generasi milenial lebih banyak peluang menciptakan keunggulan,
ketimbang generasi sebelumnya.

Hendaknya terjadi loncatan prestasi jauh ke depan mewujudkan impian
sebagaimana karakter generasi yang   menyukai hal – hal yang bersifat
instan.

Prestasi tak harus berupa sebuah produk barang – bersifat kebendaan.
Membuat sistem, merangkai tatatan dalam satu lingkungan menjadi lebih baik,
lebih dinamis dan maju, itu sebuah prestasi. Beragam prestasi dapat
diciptakan untuk kemajuan lingkungan.

Ini yang perlu diedukasi bagaimana generasi era kini yang kurang peduli
kepada lingkungan diubah menjadi sangat peduli.
Generasi milenial yang cenderung idealis, kritis dan analitis hendaknya
tetap realistis, melihat kondisi sekitarnya.

Kita memang harus menggantungkan cita-cita setinggi langit, tetapi harus
cermat pula melihat alat yang dijadikan dasar pijakan. Itulah yang disebut
jati diri.

Kita memang harus bergerak cepat mengejar ketertinggalan, mengikuiti
situasi era kini yang segala sesuatunya bergerak cepat, dunia menjadi tanpa
batas, informasi dapat diperoleh kapan saja, di mana saja dan dari mana
saja.

Meski begitu, landasan berpacu harus kuat agar tidak goyah oleh hentakan.
Kekuatan terletak kepada sikap bijak kita memanfaatkan teknologi informasi
dan komunikasi. Sebut saja media sosial. Di satu sisi dapat dimanfaatkan
untuk kebaikan, memperkaya diri  dan memajukan lingkungan. Sebaliknya dapat
digunakan untuk menyebar ketidakbaikan, kebohongan.

Diri kita yang dapat menyikapi apakah akan menjadikannya untuk memajukan
negeri  atau ikut larut memproduksi dan menyebar ketidakbaikan, kebohongan
– hoax.

Kontrol diri sejatinya ada pada diri masing- masing pribadi.

Itulah sebabnya menjadi kurang tepat sekiranya negara terlalu ketat
membatasi warganya dalam mengakses kecanggihan teknologi informasi dan
komunikasi. Beri keleluasaan sebagai upaya memotivasi generasi era kini
mengukir prestasi melalui kreasi dan inovasi yang dimiliki.

Beri kesempatan kepada kaum milenial memperoleh manfaat sebesar- besarnya
sepanjang mampu melaksanakannya.

Membuka peluang seluas mungkin untuk mendapatkan “semua yang Anda bisa”.
Yang perlu diedukasi kemudian adalah kontrol diri cara mendapatkannya. Dan,
tak kalah pentingnya mengubah mindset dari “mendapatkan semua yang Anda
bisa”  menjadi ” berikan yang kamu bisa” kepada lingkungan sekitarnya.

Lebih luas lagi kepada bangsa dan negara. Itulah bentuk kontribusi yang
secara terus menerus perlu diedukasi. (*).