Tuesday, 15 October 2019

Genap 1 Abad, GPIB Zebaoth Bersejarah, Ada Lorong Rahasia ke Istana Bogor

Jumat, 20 September 2019 — 21:06 WIB
bima rya

BOGOR  – Gereja GPIB Zebaoth Bogor akan genap berusia seratus tahun atau 1 abad. Panitia HUT 1 abad terus mempersiapkan diri, guna mensukseskan agenda peringatan bersejarah ini.

Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto pada Jumat (20/9/2019) sore melakukan pertemuan dengan panitia HUT 1 abad GPIB Zebaoth. Suasana kekeluargaan mewarnai pertemuan yang berlangsung di ruang serba guna 2 lantai 1.

Ketua Umum panitia HUT 1 abad Zebaoth, Daud D Darenoh menyambut orang nomor satu di Kota Bogor ini, saat tiba di gereja. Di hadapan Walikota Bima Arya, Ketua Umum panitia 1 abad memaparkan agenda kegiatan 1 abad, termasuk mengundang Presiden Jokowi, Kedutaan besar Belanda di Indonesia, keturunan warga Belanda yang pernah menjadi warga jemaat di gereja ini serta sejumlah pejabat.

“Kami dari panitia ingin acara 1 abad ini sukses. Maka itu, kami panitia butuh perhatian dan kerja sama. Gereja ini sangat bersejarah, bukan hanya untuk umat Kristen tapi bagi masyarakat Bogor. Ini bangunan peninggalan Belanda yang sudah masuk dalam cagar budaya,” kata Daud.

Sementara Deny Boy Sahulete, Sekretaris Umum GPIB Zebaoth Bogor menjelaskan, dulu gereja ini dikenal dengan nama Koningin Wilhelmina Kerk saat jaman kolonial.

Namun warga Bogor yang susah menyebut ejaan ini, lalu menyebutnya dengan nama gereja ayam. “Masyarakat waktu itu, susah mengucap bahasa Belanda. Warga menyebut gereja ayam, karena pada ujung teratas gereja, ada logo ayam,” kata Deny Boy.

Deny Boy menjelaskan, peletakan batu pertama gereja ini pada tahun 1920 oleh Gubernur Hindia Belanda waktu itu yang menjabat bernama Mr. J.P Graaf Van Limburg Stirum.

Gereja ini lalu digunakan oleh warga asing yang di Bogor. Sementara bagi warga pribumi, beribadah di gedung sebelahnya. Gedung ini kini dipakai oleh Kantor Pos dan Giro.

“Jadi gereja Koningin Wilhelmina Kerk ini, hanya dipakai oleh warga asing dari Ingris, Prancis, Jerman dan lain-lain termasuk Belanda untuk beribadah. Jadi ini gereja warga asing. Untuk warga pribumi, ibadahnya di kantor Pos dan Giro sekarang,” kata Deny.

Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka pada tahun 1946, Belanda menyerahkan gedung ini ke pemerintah RI. Pemerintah Soekarno waktu itu, lalu menyerahkan ke sinode dan akhirnya digunakan sebagai tempat ibadah yang jemaatnya berasal dari berbagai suku baik di kawasan Timur maupun Barat Indonesia.

Memasuki tahun 1948, gereja ini bernama GPIB (Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat).
“Tahun 1963, gereja ini resmi disebut GPIB Zebaoth. Kini GPIB Zebaoth sudah memiliki jemaat 1.500 KK atau sekitar 6.000 jiwa,” ujarnya.

Seiring waktu berjalan, pada tahun 1985, gereja ini lalu dipugar. Radius Prawiro yang saat itu menjadi menteri, lalu meminta, agar temboknya diberi keramik. Hal ini, guna mengurangi biaya renovasi yang sangat besar. Hal lain, menjaga kondisi gereja, agar terlihat bersih.

“Ide pak Radius waktu itu, semata-mata untuk tekan biaya perawatan. Karena harus diakui, rehab gedung sebesar ini apalagi gedung peninggalan, biayanya pasti besar,” kata Deny Boy.

Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto yang merespon agenda panitia 100 tahun GPIB Zebaoth mengatakan, gereja ini bisa menjadi tempat wisata bagi masyarakat banyak. “Untuk agenda dan susunan acara 1 abad, saya ikut konsep gereja. Intinya Pemkot siap bantu panitia gereja,”kata Bima Arya.

Pada kesempatan ini, orang nomor satu di jajaran pemerintah Kota Bogor ini berharap, gereja bisa membantu Pemkot Bogor dalam hal kebersihan sungai Ciliwung dan lingkungan hidup.
Ia juga berharap, program bebas plastik yang dicanangkan Pemkot Bogor, bisa dibantu gereja.

“Ke depan, program Pemkot, mohon gereja bantu. Begitu juga program gereja, bisa di sinergikan dengan program Pemkot,” pintanya.

Di tempat yang sama, Hendrik Marunaya, Ketua 2 PHMJ (pengurus harian majelis jemaat) GPIB Zebaoth Bogor menjelaskan, jika antara gereja Zebaoth dan Istana Bogor, ada jalur rahasia di bawah tanah.

Lorong rahasia ini terhubung dari dalam istana dan berakhir di dalam gereja. Lorong ini menurut peta, berada tepat di dalam kamar Bung Karno di dalam Istana Bogor dengan titik keluarnya berada tepat di bawah mimbar utama, tempat Pendeta berkhotbah.

“Jadi menurut peta, di mimbar utama, tempat Pendeta berkhotbah itu ada lorong rahasia yang terhubung langsung ke dalam Istana Bogor,” kata Marunaya. (yopi/win)