Friday, 18 October 2019

Gelora Rendah Hati

Senin, 23 September 2019 — 6:12 WIB

Oleh Harmoko

Ada pitutur luhur yang diajarkan secara turun temurun oleh orangtua kepada
kita agar senantiasa meneladani perlambang tanaman padi. Padi yang berisi
pasti merunduk. Makin berisi, tanaman padi akan kian merunduk, sedangkan
yang tengadah adalah yang kosong.

Filosofi padi yang cukup populer ini  mengajak kita semua untuk selalu
merunduk, tetap rendah hati, meski kaya ilmu, kaya harta  dan kaya akan
segala – galanya.
Artinya semakin banyak ilmu pengetahuan, semakin memiliki banyak kemampuan,
hendaknya semakin bersikap rendah hati dalam kehidupan sehari – hari.
Makna rendah hati secara harafiah adalah tidak sombong atau tidak angkuh.
Beda dengan tinggi hati yang berarti sombong atau angkuh. Sikap sombong
biasanya melekat pada keinginan suka pamer, jaga gengsi, merasa diri hebat,
sulit membaur dengan orang lain dan acap melakukan penilaiam secara
subyektif karena merasa dirinya lebih hebat, lebih tahu dari orang lain.

Sebaliknya sifat rendah hati akan selalu berusaha untuk tidak memamerkan
kelebihan kepada orang lain. Karena ada kesadaran diri bahwa kelebihan yang
dimiliki memang tidak perlu untuk dipamerkan kepada banyak orang.

Orang yang rendah hati sangat menjaga privacy yang ia miliki. Selain tidak
suka pamer, tidak merasa kaya dan pintar, juga tidak merasa lebih baik dari
orang lain. Lebih memilih menahan diri untuk menyimpan atas pencapaian yang
dimiliki karena paham betul bahwa manusia memiliki banyak kekurangan.
Sebab, semakin ingin menunjukan diri kita agar diakui, dihormati, maka
batin akan semakin tegang dan tertekan.

Kalau pun ada kelebihan yang dimiliki semata karena pemberian dari Yang
Maha Kuasa untuk disyukuri, bukan untuk dipamerkan. Itulah sejatinya sifat
rendah hati – tawadhu.

Jalaludin Rumi, penyair sufi dari Persia mengatakan ” dimanapun, jalan
untuk mencapai kesucian hati ialah melalui kerendahan hati.”

Sementara “kerendahan hati” seperti dikatakan C. S. Lewis ( penyair,
akademisi, esais, dan pengajar Irlandia), adalah ” bukan berpikir mengenai
kekurangan diri, tetapi sedikit memikirkan  diri sendiri.”

Kerendahan hati menuntun pada kekuatan bukan kelemahan. Kata John J.McCloy
(pengacara beken, bankir AS), mengakui kesalahan dan melakukan perubahan
atas kesalahan adalah bentuk tertinggi dari penghormatan pada diri sendiri.
Maknanya kita perlu menjadikan kekurangan sebagai motivasi, dan kelebihan
sebagai kerendahan hati.

Sifat rendah hati akan tercermin pula dari adanya kehendak untuk selalu
memahami kesalahan diri sendiri,  bukan menilai kesalahan orang lain. Bukan
mencari – cari kesalahan orang lain. Bukan lebih menonjolkan kemampuan
diri, sementara orang lain dianggap tidak mampu.

Filosofi Jawa pun mengajarkan “Ojo rumongso biso,nanging dadio kang biso
rumangsa” – jangan merasa bisa, tetapi jadilah bisa merasakan atas
kemampuan orang di sekitar kita. Nasihat ini meminta kita untuk bisa
menempatkan diri, tahu diri dan selalu rendah hati.

Para ahli pun menelaah ciri – ciri rendah hati. Di antara sikap tidak ego,
mau kompromi, mau menerima masukan orang lain, menerima kesalahan dan tidak
menentang orang yang menentang.

Untuk menerapkan sifat rendah hati seperti disebutkan tadi, memang tidak
mudah.

Memang perlu proses panjang dan waktu menuju rendah hati. Perlu mengubah
perilaku dari merasa  memiliki banyak kelebihan menjadi mengakui segala
kelurangan.

Dari sebelumnya cenderung menyalahkan menjadi memahami
kesalahan diri sendiri. Dari suka membual, lebih banyak mendengar. Selain
itu cerminkan sikap tidak suka pamer, tak merasa diri hebat, kurangi gengsi
dan bersikap lemah lembut.

Memang berat mengaplikasikan sikap tersebut dalam kehidupam sehari – hari,
tetapi dengan sikap rendah hati yang dimiliki akan membuka jalan kesuksesan menjadi lebih
luas. Banyak kesuksesan diraih oleh tokoh – tokoh besar dunia karena sikap rendah
hati.

Mari kita bersikap rendah hati karena kemuliaan akan lahir dari kerendahan
hati, bukan dari kesombongan yang membuat mual orang yang melihatnya.
Semoga. (*).