Saturday, 16 November 2019

Habis Manis, Tinggal Sepahnya

Jumat, 8 November 2019 — 8:55 WIB
sepah

NAIK NAIK ke puncak gunung, tinggi inggi sekali. Itu lagu anak-anak yang popular karena ringan dan bisa membuat orang riang gembira. Ia menggambarkan betapa, indahnya alam sekitar pegunungan, di situ ada pohon cemara, yang bikin sejuk. Tapi, masih adakah kesejukan setelah hutan sering digunduli dan dirusak dan dibakar?

Ah, kayaknya semuanya itu bakalan tinggal khayalan, soal keindahan, kesejukan, yang alami dari hutan dan gunung.  Padahal dulu, dulu itu banyak banget sanjungan soal alam Nusantara yang indah ya. MIsalnya saja, Koes Plus, dalam lagu lagunya, mereka menggambarkan betapa Nusantara penuh dengan keajaiban.

Bayangkan saja, tongkat kayu di lempar saja bisa tumbuh, subur dan berbuah. Misalnya, singkong, tinggal setek batangnya tancap ke bumi, maka akan tumbuh subur dan berbuah.

Lautan yang luas, kalau kita melempar jala dan pancing akan menghasilkan ikan dan udang yang banyak. Sekarang? Ah, lautan luas tercemar sampah, tumpahan minyak dan banhak lagi musibah ang bikin penghuni laut tak nyaman, dan menghilang.

Yang ada sekarang ya panen asap dari hutan, penyakit bagi warga. Seharusnya cepatlah bertindak, siapa saja yang merusak alam, jangan pandang bulu. Sudah selesai pestanya,sekarng waktunya cuci piring, bersihkan orang-orang yang menjarah isi bumi ini. Kalau nggak , kasihan anak cucu kita hanya akan kebagian penyakitnya saja.

Nyanyian indah, ke puncak gunung hanya sekadar nyanyian khayalan, karena yang ada kegersangan. Gunung  tinggi, tapi kiri kanan gersang, kalua nggak ditebang secara membabi buta, juga dibakar oleh orang tak bertanggung jawab.

Belum lagi ketika hujan datang, bakalan ada musibah baru yang bakalan menerjang, hutan tak mampu menampung air dari langit. Banjir bandang mengamuk, dan masyarakat lah yang bakalan menanggung resikonya.

Itulah warisan yang bakalan diterima generasi mendatang. Ibarat tebu, manisnya sudah habis tinggal sepahnya, doang!  (massoes)