Tuesday, 10 December 2019

Tambal Ban dan Sewa Payung

Minggu, 10 November 2019 — 7:39 WIB
DUL-10-11

Oleh S Saiful Rahim

“Alhamdulillah, kau datang, Dul! Insya Allah akan terjawab semua pertanyaan yang ada di hati kami,” kata orang yang duduk di depan Mas Wargo ketika melihat Dul Karung memasuki warung kopi  dengan didahului ucapan salam yang fasih.

“Mudah-mudahan begitu.  Allah Swt memang selalu berada di samping orang-orang yang sedang dalam kesulitan, selama mereka yakin Allah adalah pencipta solusi tanpa banding sepanjang masa di dunia dan akhirat,” balas Dul Karung  dengan kalimat yang membuat dia sendiri heran mendengarnya.

“Apa problem kalian, wahai saudara-saudaraku?” sambung Dul Karung. Tapi kali ini dia sengaja menggunakan gaya bahasa yang dibuat-buat.

Duileh, ngomong di warung kopi rasanya kayak di majelis taklim atau seminar aje,” kata orang yang duduk di depan Mas Wargo lagi.

“Sebenarnya sih bukan problem. Tadi, ketika kau belum datang, kami bicara tentang jalur jalan sepeda sepanjang 200 km yang tampaknya serius akan dibangun oleh Gubernur DKI. Seorang di antara kami tidak habis pikir, buat apa bikin jalur sepeda sepanjang itu? Buat olahraga, kepanjangan! Jangankan jalur balapan sepeda, balap motor yang beratus-ratus kilometer pun cuma berputar di situ-situ juga. Ingat nggak zaman muda dulu, kita piknik ke Bogor naik sepeda. Cuma sekitar 60 kilometer jauhnya, seluruh tubuh pegal –pegal gak kurang dari seminggu. Apalagi kalau sampe sejauh 200 km, jangan- jangan mangkok-mangkokan dengkul kita copot,” sambung orang yang duduk di depan Mas Wargo.

“Jangan lupa dong, mula-mula Pak Gubernur bicara soal jalur jalan sepeda panjang itu ketika beliau baru pulang dari Amerika. Mungkin karena beliau terkagum-kagum melihat itu lalu ketularan. Kalau meniru yang hebat-hebat lain di Amerika kita belum mampu, masak iya meniru bikin jalur jalan sepeda saja gak mampu juga? Mungkin begitu pikir beliau.

Dulu kan pernah ada, pemimpin kita yang baru pulang dari RRC dan melihat di sana penduduk rame-rame naik sepeda beliau pun memuji-muji. Mau menyuruh meniru tidak berani. Karena waktu itu hati kita masih luka karena pengkhianatan PKI. Sekarang setelah RRC tambah makmur, sepeda pun bertukar mobil dan motor di sana,” tanggap orang yang duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Jadi kau pikir Pak Gubernur kita membuat jalur jalan sepeda panjangnya berkilo-kilo meter, karena mau meniru yang lain yang serba hebat dari Amerika kita belum mampu? Wah menghina kau?” kata entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Masya Allah! Tidak seburuk itulah isi hatiku. Dan yang ada di  pikiranku tentang jalur jalan sepeda sepanjang 200 km, nanti akan ada berapa bengkel tambal ban yang berjejer di sana?

Sama juga dengan rencana pemerintah akan bikin jembatan penyeberangan orang di Senayan terbuka tanpa atap. Maksudnya agar orang yang melintas bisa menikmati keindahan bangunan yang ada di sekitar sana. Tapi yang terbayang di kepalaku berapa panjang antrean orang yang menyewakan payung di sana kalau hujan,” kata orang itu membuat banyak pendengar manggut-manggut. (***)