Tuesday, 10 December 2019

Di Yogya Camat Menjadi Penewu Kepala Desa Diubah Jadi Lurah

Sabtu, 30 November 2019 — 9:00 WIB
kapanewon

SAMPAI tahun 1970-an nomenklatur kecamatan DI Yogyakarta masih menggunakan istilah warisan Belanda, seperti kapanewon dan kemantren. Di masa Orde Baru istilah itu diganti menjadi camat untuk tingkat kabupaten dan kota. Kini, sesesuai dengan UU Keistimewaan Yogyakarta, nomenklatur itu dikembalikan ke istilah ke Orde Lama. Jadul, kata anak jaman now.

Di kota Yogyakarta, di setiap rumah ada nambor penanda wilayah, misalnya NG 3/121. NG di situ mengandung makna wilayah Kecamatan Ngampilan. Maka singkatan UH maksudnya: Umbul Harjo, GT = Gedong Tengen, GK = Gedong Kiwa, PB = Panembahan. Sebelum tahun 1970-an, orang Yogyakarta menyebut Kemantren (MPP =Mantri Pamong Praja) Ngampilan, Kemantren Gedong Tengen dan seterusnya. Sedangkan untuk wilayah kabupaten, disebutnya kapanewon.

Tapi sejak Orde Baru, Kementrian Dalam Negeri menyeragamkan, baik tingkat kota maupun kabupaten, istilah kapanewon dan kemantren diganti menjadi kecamatan, sama dengan daerah lain di seluruh wilayah Indonesia. Bagi rakyat sih, tak ada pengaruhnya apa-apa, mau diganti atau tidak nomenklatur tersebut. Kalau ada yang diuntungkan, paling-paling tukang leter yang dikontrak Pemprov DIY.

Sesuai UU Keistimewaan Yogyakarta No. 13 tahun 2012, salah satu pasalnya  memberi keleluasan istilah kelembagaan berbeda dengan daerah lain pada umumnya. Maka bila dulu Sultan HB IX selaku Gubernur DIY menggantikan istilah kemantren dan kapanewon jadi kecamatan, maka Gubernur DIY sekarang, Sultan HB X menghidupkan kembali istilah kapanewan dan kemantren tersebut.

Pilot proyek ini akan dimulai tahun 2020, dengan uji coba di Kabupaten Kulon Progo. Dengan berlakunya keputusan Gubernur DIY tersebut, 14 kecamatan di kota Yogyakarta akan menjadi Kemantren dan 78 kecamatan di tingkat kabupaten akan menjadi Kapanewon. Nantinya Pak Camat dipanggil Pak Penewu dan Kades menjadi Lurah, sementara Sekdes menjadi Carik.

Bagi anak muda jaman now, pastilah menjadi asing karenanya, kesannya jadul banget. Tapi bagi orangtua kelahiran 1950-an ke bawah, seakan bernostalgia ke masa lalu. Cuma dilihat nanti, apakah Pak Penewu juga pakai blangkon dan surjan seperti jaman dulu? (gunarso ts)