Tuesday, 12 November 2019

Iptu Iwan, Pernah Nyamar Beli Narkoba Lalu Dikepung Massa

Jumat, 8 November 2019 — 8:08 WIB
Iptu Iwan Ridwanullah.

Iptu Iwan Ridwanullah.

MALAM itu, pertengahan Februari 2019,  sejumlah warga di kawasan Mangga Dua,  Sawah Besar, Jakarta Besar, baru saja menjalankan salat Isya di sebuah mesjid. Mereka dikejutkan teriakan belasan warga sambil berlari ke sebuah mobil minibus yang terpakir di sebuah mulut gang di kawasan itu.

“Maling, maling!” teriak massa bersahutan. Suaranya semakin kencang mendekat.

Beberapa jemaah menghadang sejumlah warga sambil bertanya, “Mana malingnya, mana?’ Jangan main hakim sendiri!’ Belum sempat pertanyaan itu dijawab, terdengar letusan senjata api.

Dor, Dor! Dor! Berondong tembakan ke udara dari seorang pria yang keluar dari mobil itu. Disusul kemudian satu pria lainnya. Rentetan tembakan itu  memaksa gaduh massa seketika membisu.

“Kami bukan maling! Kami polisi! Ini KTA (Kartu Anggota) kami,” ucap pria itu sambil tangan kirinya menunjukkan KTA,  tangan kanan menggenggam sepucuk pistol.

Massa terdiam di tempat. Beberapa jemaah mesjid datang menghampiri pria yang memberondong tembakan ke udara. KTA-nya diperiksa dan menanyakan tudingan massa itu.

Sesaat kemudian mereka meminta massa bubar.  “Dia memang polisi. Mereka sedang menyamar dan menangkap pengendar narkoba,” ucap satu tokoh ulama.

Massa akhirnya bubar, sedangkan satu pengedar narkoba  berikut belasan paket shabu diamankan ke Mapolsek Tebet.  “Itu secuil pengalaman saya bersama tiga anggota meringkus pengedar narkoba  diteriaki maling dan nyaris digebuki,” kenang Iptu Iwan Ridwanullah.

PENUH RISIKO
Kanit Reksrim Polsek Tebet ini mengatakan, menjadi anggota Korps Bhyangkara  penuh  risiko apalagi ditugaskan di satuan reserse.  “Namun bila dijalankan penuh ikhlas, bertanggungjawab, sesuai prosedur dan selalu berdoa kepada Tuhan, risiko itu akan hilang,” ucapnya.

Lulusan Bintara SPN Lido, Bogor  tahun 2000 ini tak pernah mengeluh meski  harus bergadang berhar-hari atau menyamar sebagai pemulung, demi mengungkap suatu kasus. “Saya punya tanggung jawab mengungkap kasus kejahatan, salah satunya  narkoba. Harus saya jalani dengan senang,” katanya.

Dengan menangkap pengedar dan mengungkap kasus narkoba, dia berharap pendistribusian narkoba ke masyarakat semakin berkurang.

“Saya kerap membayangkan, bila narkoba menjerumuskan  keluarga atau  teman. Sumpah, saya tak sanggup melihatnya. Sebab itu saya bertekad, akan terus kejar dan tangkap pengedar dan bandar  itu,” tukas lulusan Sekolah Inspektur Reserse, Megamendung, Bogor ini. (adji/iw)