Sunday, 15 December 2019

Tim Behrend, Bule Amerika yang Meneliti Serat Yusup Beraksara Jawa dan Pegon

Minggu, 17 November 2019 — 13:13 WIB
Tim Behrend, bule Amreika Serikat peneliti karya-karya sastra jawa klasik beraksara jawa dan pegon.

Tim Behrend, bule Amreika Serikat peneliti karya-karya sastra jawa klasik beraksara jawa dan pegon.

JAKARTA – Tim Behrend,  bule asal Amerika Serikat, ini sedang sibuk meneliti  karya-karya sastra Jawa yang menggunakan  aksara Jawa (klasik) dan juga aksara Pegon (aksara Arab untuk menuliskan karya berbahasa Jawa).

Belakangan ini, Timothy E Behrend, begitu nama aslinya, sedang sibuk mengerjakan proyek tentang karya sastra berjudul Serat Yusup, berisi cerita tentang nabi Yusuf menurut tafsiran pengarang Jawa. 

Penelitian ini bukan maian-main. Karya sastra Jawa dengan judul Serat Yusup ini banyaknsekali varian dan variasinya. Maklum jaman kuno belum ada percetakan, sehingga kalau ada org ingin memiliki, ya harus menurun karya karya yang ada.

Terlebih Serat Yusup di masa lampau sangat terkenal di Tanah Jawa. Banyak sekali orang yang membacanya, banyak pula yang menurun dan menulis dengan persepsinya.

Salah satu naskah Serat Yusup yang diteliti Tim Behrend, dipajang di wall akun Facebook-nya.

Salah satu naskah Serat Yusup yang diteliti Tim Behrend, dipajang di wall akun Facebook-nya.

Tentang Tim Behrend sendiri, ia sudah pernah malang melintang di Indonesia uintuk meneliti karya-karya sastra Jawa klasik, terutama yang beraksara Jawa.

Ia pernah mengerjakan proyek katalogisasi naskah-naskah kuno (aksara Jawa/pegon) di Perpustakaan Sono Budoyo, Yogjakarta, kemudian di Bagian Koleksi Naskah, FIB Univeristas Indonesia, Depok.

Terakhir, mengerjakan katalogisasi naskah-naskah kuno berksara daerah yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia, kala itu masih di Jalan Salemba.

Kini, pria tinggi besar yang oleh sementara disapa sebagai Kumbokarno itu, menjadi pengajar di Universitas Auckland Selandia Baru (New Zeland). Ternyata, Tim yang disertasinya tetang Serat Jatiswara itu, masih tetap menaruh perhatian sastra Jawa klasik (selaku pakar filologi, ilmu yang menelaah naskah-naskah kuno bertuliskan tangan).

Hal itu ditunjukkan demgan perhatiannya menggarap Serat Yusup, seperti terungkap dalam statusnya di Facebook yang diunggah beberapa waktu lalu.

“Nuwun, mau numpang minta bantuan dan informasi, terutama kepada Anda sekalian yang mengenal dan memiliki naskah Jawa. Saya sedang mencari informasi mengenai berbagai naskah Serat Yusup, baik dalam bentuk lontar baik naskah dluwang dan kertas impor yang tulisan pegon atau Jawa,” tulisnya.

Yang dia maksud lontar adalah alas tulis yang terbuat dari daun lontar, lembarannya mirip daun kelapa. Sedangkan, dluwang adalah alas tulis terbuatbdari kulit kayu.

Selanjutnya, dalam status di facebook tersebut, Tim Behrend memnta informasi kepada oembaca FB apabila memiliki koleksi naskah Serat Yusup, untuk memberikan data-data naskah tersebut.

“Saya yakin ada di antara teman-teman sekalian yang menyimpan naskah Yusup dalam koleksi pribadi, atau mengenal dalam koleksi lain (mungkin tempat Anda kerja atau tempat penelitian). Kalau ada, dan bersedia bekerja sama sedikit untuk mendatakan teks yg ada dalam naskah-naskah itu, mohon kontak saya di FB maupun lewat imil (t.behrend@auckland.ac.nz),” ujarnya.

 

Selanjutnya dia memaparkan hal yang lebih teknis dan sedikit mulai masuk ke masakah penelitiannya. Dia melanjutkan hal-hal yang dia perkukan untuk penelitiannya.

“Saya sudah punya bahan seperti daftar pupuh dan lain sebagainya yang dapat mempermudah pendataan. Naskah yang datanya saya cari tidak usah tersimpan dalam koleksi yg terbuka untuk umum. Yang penting bagi saya hanya mengetahui variasi yg ada dalam teks Yusup (terutama struktur pupuhnya),” katanya.

Yang mengagumkan, ternyaya dalam proyek penelitiannya, dia telah menginventarisasi ratusan Serat Yusup. Dia memperkirakan, naskah kuno Serat Yusup mencapai ribuan.

“Jumlah naskah Yusup itu mencapai ratusan yg sudah saya ketahui, dan mungkin ribuan kalau terbilang secara total, berkat populernya Yusup di kalangan masyarakat dan pemakaiannya dalam upacara keluarga dan desa di sepanjang Pasisir Wetan dan Madura. Terima kasih sebelumnya atas bantuan apa saja yg sudi Anda berikan,” tandasnya.

 

Atas status Tim Behrend ini, ada sejumlah teman FB yang memberikan tanggapan. Tim sendiri menyatakan, saat ini dirinya sedang menunggu kiriman garapan Serat Yusup yang dikerjakan Prof Dr Titik Pudjiastuti, guru besar filologi, di FIB UI.

Kita tunggu hasil penelitian Tim Behrend. (win)