PARA penggemar film Rhoma Irama mengenalnya sebagai “musuh” sang idola Raja Dangdut itu. Dia memang spesialis peran antagonis, dan dikenal luas lewat sejumlah film musikal dangdut Rhoma Irama era 80-an. Soultan Saladin namanya. Dia masih terus mengabdi di ranah film nasional.
Meski jarang tampil lagi sebagai aktor, pria 73 tahun ini masih eksis berjuang melalui organisasi PARFI sebagai Pjs Ketum versi AA Gatot.
“Sekali-sekali sih, masih main. Banyak juga yang ngajak, terutama temen-temen lama. Hanya kadang aku ngga bisa, kebentur waktu, apalagi seperti ini jelang kongres,” ujar kakek dari 9 cucu ini.
Sebisanya, Soultan tetap berupaya menyiapkan waktu buat film atau sinetron, meskipun itu hanya beberapa scene.
“Anak cucu-cucu sih bilang agar gue anteng aja di rumah, main gitu. Tapi gue mana bisa kayak gitu? Kesibukan ngurus organisasi, bantu film temen, itu dunia gue yang udah gue jalanin sejak tahun 70 an,” terangnya.
Soultan juga tak menampik, seiring usianya yang sudah memasuki senja, dia juga mulai memikirkan kesehatan, kebahagiaan berkumpul dengan anak cucu dan keluarga. Pria asal Pematang Siantar berdarah Minang-Melayu ini cukup bahagia dengan 9 cucu dari 3 anaknya.
“Meskipun tidak serumah, karena gue hanya tinggal berdua dengan isteri, tapi paling ngga seminggu sekali kami bisa ngumpul,” ungkap Soultan yang memulai debutnya lewat film “Pengantin Remaja” tahun 1971.
Untuk menjaga kesehatannya, Soultan juga suka refressing dan olahraga. “Kadang olahraga pagi seperti lari-lari, kalo refreshing, bisa keluar negeri hehe,” sambungnya tertawa.
Satu hal yang belum terwujud dalam hidupnya, ingin menunaikan Haji ke Mekkah. Soultan ingin dalam waktu tidak lama bisa menunaikan ibadah Haji.
SEMPAT DIBENCI
Kembali menyoal sosok antagonisnya di film-film yang dibintangi Rhoma Irama, Soultan mengaku sempat dibenci oleh fans fanatisnya si Raja Dangdut itu.
Dalam sejumlah film musikal dangdut Rhoma Irama, seperti “Melodi Cinta”, “Perjuangan dan Doa”, “Badai Di Awal Bahagia”, “Satria Bergitar”, aktor dengan nama asli Saladin Syah ini memang diplot melakoni tokoh antagonis, jadi lawan sang bintang utama.
Kini, di masa tuanya, Soultan merasa sangat bersyukur, karena salah seorang putranya bisa menjadi Habib.
“Insha Allah bisa menjadi imam keluarga, gue bersyukur banget,” tandas Soultan yang sudah membintangi sekitar 30 lebih film nasional ini.
Dia mengawali debut di dunia film dengan bermain sebagai pemeran pembantu dalam film “Pengantin Remaja” pada tahun 1971. Selanjutnya masih pada tahun yang sama ia bermain dalam film “Lewat Tengah Malam” dan “Wajah Seorang Laki-Laki” sutradara alm. Teguh Karya . (ali/d)